Kabar buruk datang bagi para pekerja teknologi asal India yang selama ini mengandalkan Amerika Serikat sebagai tujuan utama karier mereka. Pemerintah AS baru-baru ini resmi membekukan pengajuan baru dan yang masih tertunda untuk program Permanent Labor Certification (PERM). Kebijakan ini berdampak langsung pada delapan perusahaan teknologi raksasa, termasuk Microsoft, Infosys, Tata Consultancy Services (TCS), Wipro, dan HCL Technologies, yang dilarang merekrut tenaga ahli internasional untuk status permanen melalui jalur visa tersebut.
Bagi ratusan ribu pekerja India pemegang visa H-1B, langkah ini memutus rantai perjalanan karier mereka yang biasanya berujung pada green card dan kewarganegaraan. Meski demikian, dampak terhadap bisnis perusahaan disebut tidak terlalu signifikan. Asosiasi industri teknologi India, Nasscom, menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut kini telah mengurangi ketergantungan pada visa H-1B dan beralih ke perekrutan lokal. Wipro, misalnya, mengklaim lebih dari 80% tenaga kerjanya di AS adalah warga lokal, sementara TCS mencatat pengajuan PERM mereka hanya sedigit dalam dua tahun terakhir.
Meski secara bisnis relatif aman, dampak humanisnya jauh lebih dalam. Seorang eksekutif senior dari salah satu perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa banyak pekerja yang sudah bertahun-tahun menetap di AS kini terjebak dalam ketidakpastian status, sementara anak-anak mereka telah berakar di sana. Situasi ini diperparah oleh pernyataan Wakil Presiden JD Vance yang memperketat retorika terhadap pekerja H-1B, menambah kekhawatiran di kalangan komunitas profesional India di AS.