KAPAL INDUK AS PULANG SETELAH 265 HARI DI LAUT - Berita Dunia
← Kembali

KAPAL INDUK AS PULANG SETELAH 265 HARI DI LAUT

Foto Berita

San Diego, AS — Kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya merapat ke pangkalannya di Naval Air Station North Island, San Diego, Kamis lalu, setelah menjalani misi maraton 322 hari. Yang bikin heboh: 265 hari di antaranya dihabiskan tanpa singgah ke pelabuhan mana pun — rekor terpanjang dalam sejarah operasi kapal induk modern AS.

Momen haru pecah di dermaga. Ratusan pelaut langsung disambut keluarga yang sudah menunggu berbulan-bulan. "Rasanya luar biasa," ujar Abel Ramirez, pelaut berusia 20 tahun, kepada AP. Orang tuanya bahkan nekat menyetir dari Texas demi memeluknya. "Ada masanya saya pikir tidak akan pernah bisa turun dari kapal ini."

Di balik euforia reuni, misi ini menyimpan cerita kelam. Selama bertugas mendukung operasi militer AS-Israel terhadap Iran, kondisi di dalam kapal dilaporkan memburuk: stok makanan menipis, akses mandi terbatas, hingga muncul laporan sejumlah percobaan bunuh diri di antara kru. Istri seorang pelaut, Alma Solano Velez, mengungkap suaminya mendambakan oxtail, ayam barbekyu, dan empanadas udang — makanan yang selama 10 bulan cuma jadi angan-angan.

Pemerintah AS geram dengan pemberitaan kritis ini. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menuduh media sengaja membangun narasi "simbol disfungsi dan moral rendah". Presiden Donald Trump bahkan menyebut laporan soal USS Lincoln sebagai "fake news", dan sempat berkelakar bahwa durasi misi kapal itu "belum cukup lama".

Kritik publik nyata. Polling Pew Research Center yang rilis Kamis menunjukkan 65 persen warga AS tidak setuju dengan cara Trump menangani perang, hanya 33 persen yang mendukung. Perang yang sudah berjalan sejak Februari ini juga memicu kekhawatiran biaya hidup menjelang pemilu sela, terutama setelah Iran mengganggu lalu lintas komersial di Selat Hormuz — jalur vital perdagangan bahan bakar dan pupuk dunia.

Dampak bagi masyarakat: Bagi keluarga militer AS, misi super panjang seperti ini jadi ujian mental dan finansial. Sementara bagi pasar global, gangguan di Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga energi dan pangan, termasuk di Indonesia yang masih impor bahan bakar dan gandum. Rekor 265 hari ini bukan sekadar angka — ia cerminan betapa perang yang tak kunjung usai mulai menggerus daya tahan tentara dan ekonomi warga sipil.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook