Kabar terbaru dari Teheran menunjukkan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini sedang disorot tajam. Pasalnya, ada dua suara yang sangat kontras dari lingkaran kekuasaan Iran, bikin publik bertanya-tanya ke mana arah pembicaraan penting ini akan berlabuh.
Di satu sisi, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menunjukkan sikap yang sangat pesimis. Dengan tegas ia bilang, AS sudah coba gulingkan pemerintah Iran sejak Revolusi Islam 1979 tapi selalu gagal, dan di masa depan pun tidak akan pernah berhasil. Khamenei juga menolak mentah-mentah tawaran negosiasi yang mengharuskan Iran melepaskan energi nuklir atau menghentikan pengayaan uranium hingga nol. Menurutnya, itu adalah tuntutan yang 'bodoh'. Ia bahkan pakai simbolisme agama untuk menolak tunduk pada 'pemimpin korup' seperti yang berkuasa di AS saat ini.
Tapi, ada nada yang jauh berbeda dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Setelah perundingan tidak langsung di Jenewa yang dimediasi oleh Oman, Araghchi justru mengklaim ada kemajuan signifikan. Menurutnya, diskusi yang berlangsung 'sangat serius' dan 'konstruktif' itu sudah mencapai kesepakatan tentang 'prinsip-prinsip panduan' untuk sebuah draf dokumen. Ini tentu sebuah pernyataan yang jauh lebih positif dan membuka harapan dibanding nada dari sang Pemimpin Tertinggi.
Dari sisi Iran, pesan yang ingin disampaikan adalah mereka serius dalam pembicaraan ini dan ingin melihat hasil nyata, terutama pencabutan sanksi berat AS. Sanksi ini diberlakukan setelah Presiden AS kala itu, Donald Trump, secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 tiga tahun sebelumnya. Sementara itu, delegasi AS yang dipimpin Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, juga hadir di Jenewa. Bahkan, ada pembicaraan paralel dengan Ukraina dan Rusia. Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, juga ikut serta, menandakan pentingnya peran pengawasan nuklir di masa depan. AS sendiri tetap pada tuntutannya: Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium sama sekali.
Kontradiksi antara sikap pesimis Khamenei dan optimisme Araghchi ini bisa jadi bagian dari strategi negosiasi yang kompleks dari Iran, untuk menunjukkan kekuatan dan ketegasan, sekaligus tetap membuka pintu diplomasi. Namun, bisa juga ini mencerminkan perbedaan pandangan di internal Teheran yang membuat negosiasi makin rumit. Bagi masyarakat internasional, situasi ini menimbulkan ketidakpastian. Di satu sisi, ada harapan akan potensi titik temu karena kanal diplomasi masih terbuka, namun di sisi lain, jalan menuju kesepakatan masih sangat berliku, terutama dengan perbedaan tuntutan mendasar antara kedua pihak.