Kenaikan tarif listrik yang kian mencekik membuat gelombang baru muncul di Filipina: peralihan massal ke energi surya atap. Pemicunya bukan sekadar harga yang memang sudah tertinggi di Asia Tenggara, tetapi juga ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengguncang pasar energi global dan membuat tagihan makin tak terkendali.
Kisah Keith Cantera jadi gambaran nyata. Selama bertahun-tahun ia menunda pasang panel surya karena biaya awal mencapai 5.000 dolar AS. Namun ketika tagihan bulanannya melonjak dari sekitar 150 dolar AS menjadi 220 dolar AS, ia langsung mengambil keputusan. "Biayanya setara tagihan listrik tiga sampai empat tahun dengan tarif sekarang. Tapi di tahun kelima, investasi kembali, dan listrik praktis gratis," ujarnya.
Fenomena ini bukan isapan jempol. Data lembaga energi Ember menunjukkan pemasangan panel surya atap di Filipina hampir dua kali lipat sejak awal 2025. Sepanjang Maret-Mei, impor panel surya melonjak hingga 407 juta dolar AS, menjadikan Filipina pasar ekspor terbesar bagi produsen panel asal Tiongkok pada periode itu.
Pemasok pun kewalahan. Lexus Grepo, CEO Solarmaxx, mengaku ada antrean pemasangan hingga 30 hari karena pengiriman tak mampu mengejar permintaan. "Maret lalu kami pegang 40 proyek, hampir tiga kali lipat klien bulanan. Sekarang kami pasang 25-30 sistem per bulan," katanya.
Masalahnya klasik: Filipina mengimpor lebih dari 70 persen batu bara dan gas untuk kebutuhan listrik, dan pelemahan peso ke level terendah sepanjang sejarah (63 per dolar AS) membuat impor makin mahal. Presiden Ferdinand Marcos Jr bahkan sempat mendeklarasikan darurat energi nasional pada akhir Maret. Di tengah ketidakpastian global, warga Filipina kini memilih mandiri: tidak lagi pasrah pada gejolak pasar energi dunia.