Hubungan panas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali memanas. Pejabat tinggi Iran kini angkat bicara keras, mengancam akan membatalkan kesepakatan gencatan senjata yang sudah dirundingkan dengan Amerika Serikat jika serangan Israel ke Lebanon dan Gaza tidak segera dihentikan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata antara Iran dan AS bersifat menyeluruh. "Genjatan senjata adalah di semua lini, termasuk Lebanon. Jika dilanggar di satu titik, maka itu adalah pelanggaran total," ujarnya. Ia langsung menuding Israel dan AS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas konsekuensinya. Pernyataan ini diperkuat oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menyebut blokade laut dan eskalasi perang di Lebanon sebagai bukti nyata bahwa AS tidak mematuhi kesepakatan. "Setiap pilihan ada harganya. Tagihan akan datang," ancamnya.
Ancaman ini muncul di tengah agresi militer Israel yang semakin menjadi. Pasukan darat Israel sudah mencapai titik terdalam di Lebanon selatan dalam 26 tahun terakhir. Tak hanya itu, militer Israel baru saja mengeluarkan perintah evakuasi massal untuk warga pinggiran selatan Beirut, Dahiye, dan bersiap melancarkan serangan besar-besaran ke kota tersebut.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melaporkan bahwa Tehran telah menghentikan sementara komunikasi dengan mediator AS. Iran bersikeras tidak akan ada negosiasi sebelum Israel menarik pasukannya sepenuhnya dari Lebanon dan menghentikan operasi militer di Gaza. Bahkan, IRGC melalui media pemerintah mengeluarkan ancaman lebih serius: Iran akan membuka "front baru" dan menutup Selat Hormuz jika serangan Israel tidak dihentikan. "Iran menganggap pelanggaran garis merah di Lebanon dan Gaza sama saja dengan perang langsung," bunyi pernyataan intelijen IRGC.
Dampak dan Analisis: Sikap keras Iran ini jelas memperumit upaya diplomasi yang selama ini dirintis AS. Washington selama ini berusaha memisahkan konflik Israel-Hizbullah di Lebanon dari perseteruan langsung dengan Iran. Namun, Tehran justru menyatukan semua lini sebagai satu paket. Jika ancaman penutupan Selat Hormuz benar-benar terjadi, dampaknya langsung terasa ke harga minyak global dan ekonomi Indonesia, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah. Situasi ini membuat Timur Tengah berada di ambang perang regional yang lebih luas, dan masyarakat dunia harus bersiap menghadapi potensi krisis energi baru.