Tokyo – Bank Sentral Jepang (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Pada Selasa (17/6), BOJ menaikkan suku bunga kebijakan dari 0,75% menjadi 1%, level yang terakhir kali terjadi pada 1995.
Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga energi global, terutama setelah konflik di Iran mendorong biaya hidup di berbagai negara. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah, Jepang merasakan tekanan inflasi yang signifikan. Data menunjukkan harga grosir di Jepang pada Mei lalu naik lebih dari 6% dibanding tahun sebelumnya, laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam kebijakan moneter Jepang. Selama dua dekade, Jepang mempertahankan suku bunga mendekati nol persen untuk melawan deflasi dan stagnasi ekonomi pasca-gelembung aset di era 1990-an. BOJ mulai menaikkan suku bunga secara bertahap sejak Maret 2024, yang merupakan kenaikan pertama dalam 17 tahun.
Ekonom Jepang, Jesper Koll, menilai Jepang kini berada dalam siklus inflasi yang sehat. "Kebijakan moneter darurat sudah tidak diperlukan lagi. BOJ ingin kembali ke kebijakan moneter yang normal," ujarnya.
Namun, keputusan ini memiliki konsekuensi yang rumit. Di satu sisi, kenaikan suku bunga membantu meredam inflasi dan menstabilkan nilai tukar yen yang sempat tertekan oleh dolar AS dan euro. Di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi membuat biaya pinjaman membengkak, sehingga membebani pemerintah dan sektor bisnis.
Menariknya, Gubernur BOJ Kazuo Ueda tidak hadir dalam rapat penentuan suku bunga kali ini karena menjalani perawatan infeksi kista hati. Meski begitu, ia sebelumnya telah menyatakan sikap optimis terhadap kenaikan suku bunga. Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal mendukung belanja negara, tidak mengkritik langkah BOJ ini, menandakan adanya konsensus politik di balik keputusan tersebut.