KANADA: RUMAH KECIL JADI BENTENG LAWAN PIPA RAKSASA - Berita Dunia
← Kembali

KANADA: RUMAH KECIL JADI BENTENG LAWAN PIPA RAKSASA

Foto Berita

Di tengah hutan lebat British Columbia, Kanada, sekelompok kecil pejuang hak tanah adat yang menamakan diri Tiny House Warriors, empat tahun terakhir berjuang mati-matian menentang perluasan proyek pipa minyak raksasa. Perlawanan ini bukan tanpa harga, mereka harus menghadapi kekerasan fisik, penangkapan, hingga dakwaan kriminal demi mempertahankan tanah leluhur mereka.

Proyek pipa Trans Mountain ini, yang membentang dari Alberta hingga Vancouver, bertujuan melipatgandakan kapasitas pengangkutan minyak mentah Kanada. Masalahnya, separuh jalur pipa ini melintasi wilayah Bangsa Secwepemc, tanah yang menurut Mahkamah Agung Kanada pun belum pernah diserahkan secara resmi melalui perjanjian apapun.

Kakak beradik kembar Kanahus dan Mayuk Manuel, yang merupakan keturunan Secwepemc, mendirikan kelompok Tiny House Warriors. Bagi mereka, menegaskan hak atas tanah ini adalah sebuah perjuangan sekaligus cara hidup. Sejak 2017, mereka menyusuri rute konstruksi pipa dari Edmonton hingga Vancouver menggunakan rumah-rumah mobil kayu mungil yang mereka sebut "tank tempur". Rumah-rumah ini berfungsi sebagai tempat berlindung dan benteng pertahanan bagi para aktivis.

Dalam upaya menentang pembangunan pipa, Tiny House Warriors berkali-kali berhadapan langsung dengan pekerja proyek dan polisi. Akibatnya, kekerasan, penangkapan, dakwaan, hingga vonis hukum harus mereka hadapi. Dalam salah satu bentrokan tahun lalu, seorang pekerja pipa menjatuhkan dan menindih Mayuk. Sementara itu, Kanahus bercerita, pergelangan tangannya patah akibat tindakan polisi dalam insiden lain pada 2019. Di tengah semua itu, kamp "Tiny House Village" di Blue River, British Columbia, tetap menjadi ruang aman dan pusat pelestarian budaya, tempat mereka mengajarkan tradisi kepada generasi muda.

Perjuangan ini bukan sekadar tentang pipa, tapi juga melawan asimilasi paksa, perampasan tanah, dan kekerasan yang sudah puluhan tahun dialami komunitas First Nations di Kanada. Pemerintah Kanada sendiri mengakui bahwa sejarah perlakuan terhadap masyarakat adat setara dengan genosida. Selama lebih dari seratus tahun, pemerintah mengoperasikan sekolah berasrama wajib di mana setidaknya 150.000 anak-anak adat dipaksa berasimilasi dan menjadi korban kekerasan sistematis. Belum lagi, tahun lalu, kepolisian Kanada melaporkan lebih dari 1.000 perempuan dan anak perempuan adat dibunuh antara 1980 hingga 2021, empat setengah kali lipat lebih tinggi dari kelompok perempuan lainnya. Kanahus bahkan mengungkapkan, nenek buyutnya sendiri adalah salah satu korban pembunuhan. Trauma lintas generasi inilah yang memicu keluarga mereka untuk berorganisasi dan berjuang, demi penyembuhan dan masa depan yang lebih baik.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook