Bencana banjir dahsyat kembali melanda Mozambik, menewaskan lebih dari 150 jiwa dan berdampak pada sekitar 800.000 warga di provinsi selatan dan tengah negara itu. Curah hujan tinggi dan luapan sungai Limpopo yang melintasi wilayah tersebut telah memicu krisis kemanusiaan dan ekonomi yang parah, menghancurkan infrastruktur serta melumpuhkan kehidupan ribuan keluarga.
Sejak akhir Desember hingga pertengahan Januari, wilayah selatan Afrika diguyur hujan lebat non-stop. Akibatnya, Sungai Limpopo, yang hulunya berasal dari Afrika Selatan, meluap hingga mencapai ketinggian berbahaya di Mozambik. Wilayah-wilayah seperti Provinsi Gaza, termasuk kota Chokwe dan Xai-Xai, serta Kota Maputo dan Kotamadya Matola, menjadi area paling terpukul. Banyak warga, seperti Emilia Machel dari Chokwe, terpaksa mengungsi ke tempat penampungan seperti Chiaquelane, lokasi yang ironisnya juga menjadi tujuan mereka saat banjir besar tahun 2000 dan 2013.
Kondisi ini diperparah oleh tata kota yang kurang terencana. Di Matola, misalnya, kepadatan penduduk dan pembangunan liar yang menghalangi jalur air mempercepat terjadinya genangan parah, memaksa ribuan rumah tangga mengungsi. Pemerintah Mozambik sendiri memperkirakan kerugian akibat kerusakan infrastruktur mencapai ratusan juta dolar. Ladang-ladang pertanian di Gaza, yang merupakan lumbung pangan Mozambik, kini terendam, dan gudang-gudang penyimpanan makanan hancur lebur. Bahkan bangunan restoran milik pengusaha Paula Fonseca di Xai-Xai pun masih terendam air.
Meskipun curah hujan mulai mereda dan permukaan air sungai sebagian besar telah surut, pekerja kemanusiaan UNICEF melaporkan bahwa hamparan tanah luas masih terendam, bahkan ada area yang terasa seperti "terbang di atas samudra" karena saking luasnya genangan. Warga di beberapa bagian negara juga masih terjebak dan membutuhkan evakuasi. Ironisnya, Badan Meteorologi Mozambik (INAM) masih memprediksi hujan sedang akan berlanjut di provinsi-provinsi utara, menambah kekhawatiran akan dampak lanjutan. Banjir yang berulang kali menghantam Mozambik ini bukan hanya bencana alam, tetapi juga cerminan kerentanan negara terhadap perubahan iklim dan urgensi penataan wilayah yang lebih baik demi keselamatan warganya di masa depan.