KERANJANG PERANG IRAN-AS, NEGARA TELUK GELISAH TINJAU ULANG KEAMANAN - Berita Dunia
← Kembali

KERANJANG PERANG IRAN-AS, NEGARA TELUK GELISAH TINJAU ULANG KEAMANAN

Foto Berita

Jakarta, Warkop News – Isyarat gencatan senjata jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran membuat negara-negara Teluk mulai bergerak. Mereka merasa perlu meninjau ulang skema keamanan kawasan yang selama ini bergantung penuh pada militer AS.

Presiden Donald Trump membatalkan serangan baru ke Iran dan mengklaim kesepakatan sudah di depan mata. Bahkan, Trump menyebut waktu dan tempat penandatanganan akan segera diumumkan. Namun, di Teheran, sikapnya lebih hati-hati. Seorang pejabat senior Iran mengaku masih mengkaji draf nota kesepahaman dengan Washington.

Isyarat lain datang dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang pernyataannya mengindikasikan deal tersebut nyata. Jika jadi, ini akan berdampak besar pada keamanan kolektif regional.

Selama ini, negara-negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, UEA, dan Arab Saudi menjadi tuan rumah bagi puluhan ribu personel militer AS di 19 pangkalan militer. Model kemitraan ini dianggap sebagai tameng ampuh sejak 1980-an. Namun, perang yang pecah sejak 28 Februari lalu justru membalikkan logika itu.

Iran berulang kali menyebut negara Teluk sebagai 'saudara', tapi nyatanya mereka tetap jadi sasaran serangan rudal dan drone. Setidaknya 28 warga sipil tewas di enam negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dalam empat bulan terakhir. Ironisnya, negara-negara itu bersikeras tidak pernah mengizinkan serangan ke Iran diluncurkan dari wilayah mereka.

“Perang ini benar-benar merobek rasa aman. Payung keamanan AS saat ini moribund—di ambang kematian—atau paling tidak, tidak efektif,” ujar Simon Mabon, profesor hubungan internasional dari Lancaster University, kepada Al Jazeera.

Menurutnya, kehadiran pangkalan AS di wilayah mereka justru membuat negara Teluk menjadi target langsung. “Mereka tidak bisa lari dari geografinya. Iran tidak akan hilang. Mereka harus hidup berdampingan,” tambahnya.

Analis politik Timur Tengah, Mahjoub Al-Zuwairi, menilai model kemitraan keamanan ala AS sudah usang. “Dulu model ini memberikan efek gentar dan kedalaman intelijen. Tapi sekarang, negara Teluk sadar mereka butuh opsi baru yang lebih realistis,” jelasnya.

Jika kesepakatan Iran-AS benar-benar terjadi, ini bisa jadi momentum bagi negara Teluk untuk mendesain ulang arsitektur keamanan mereka sendiri—mungkin lebih mandiri, atau justru mencari keseimbangan baru dengan kekuatan regional lain.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook