Awal pekan lalu, mendadak aliran listrik mati di jalur kereta api yang vital di Bryansk, Rusia barat, dekat perbatasan Ukraina. Akibatnya fatal: jalur yang biasa mengangkut senjata dan pasokan militer Rusia ke garis depan itu lumpuh total. Ini bukan padam listrik biasa, melainkan aksi sabotase berani dari kelompok perlawanan Ukraina, Atesh, yang membakar gardu induk di dekatnya.
Atesh, yang namanya berarti "api" dalam bahasa Tatar Krimea, bukan pemain baru. Kelompok perlawanan bawah tanah ini semakin dikenal sebagai motor utama di balik lebih dari separuh aksi sabotase di wilayah pendudukan Rusia tahun lalu. Lewat saluran Telegramnya, Atesh sesumbar, "Atesh secara presisi menargetkan titik-titik lemah jaringan listrik musuh, melumpuhkan bagian belakang mereka."
Saat Rusia terus mengukuhkan cengkeramannya di wilayah pendudukan Ukraina, pasukan mereka menghadapi perlawanan tak hanya di garis depan, tapi juga dari belakang. Koordinator Atesh, yang identitasnya dirahasiakan, menjelaskan bahwa saat ini mereka terlibat dalam "perang gesekan" dan peran perlawanan internal menjadi sangat menentukan. "Para penjajah tak bisa menjaga setiap truk atau setiap meter rel di belakang mereka," katanya kepada Al Jazeera.
Atesh didirikan pada September 2022, tujuh bulan setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina. Inti anggotanya memang berasal dari Tatar Krimea, etnis minoritas yang punya sejarah panjang ketidakpuasan terhadap kekuasaan Moskow. Namun, Atesh juga merangkul orang-orang Ukraina, bahkan sejumlah kecil warga Rusia dan Belarusia. "Kami menyadari Krimea dan wilayah pendudukan lain tidak akan diam saja menunggu pembebasan; mereka harus menjadi duri dalam daging bagi penjajah dari dalam," ujar perwakilan kelompok itu. "Kami bekerja untuk kehancuran sistematis mesin militer Rusia dari dalam. Kami memastikan setiap tentara Rusia di tanah kami merasa tidak aman, dan logistik, peralatan, serta markas mereka menjadi abu."
Sejak invasi skala penuh Ukraina dimulai, aksi sabotase di wilayah Rusia memang marak, diawali dengan serangan pembakaran di kantor-kantor wajib militer. Kini, infrastruktur kereta api dan kereta pasokan untuk pasukan Rusia menjadi target utama para penyabotase. Mereka ingin memperlambat "mesin perang" Kremlin. Pelaku sabotase ini beragam, termasuk warga Rusia dan Belarusia yang anti-perang, jaringan bawah tanah seperti BOAK (Organisasi Tempur Anarko-Komunis), hingga penyabotase bayaran yang direkrut agen Ukraina secara online. Menurut Olha Polishchuk, manajer riset pemantau konflik ACLED, operasi sabotase sering dikoordinasikan oleh intelijen Ukraina dan SBU (Dinas Keamanan Ukraina). "Mereka dilakukan oleh orang-orang yang mendukung Ukraina atau direkrut dengan iming-iming imbalan finansial, ancaman, atau tipu daya," tambahnya.