Yerusalem, Tepi Barat - Gelombang serangan pemukim Israel di Lembah Yordania memaksa eksodus massal warga Palestina. Mukhlis Masa'id, warga Khirbet Yarza, menjadi saksi bagaimana 14 keluarga atau sekitar 100 orang memilih meninggalkan kampung halaman mereka setelah tiga tahun mengalami teror sistematis.
Serangan yang meningkat sejak Oktober 2023 ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Para pemukim secara terorganisir menghancurkan tanaman, mencuri ratusan domba dan sapi, hingga menyerang penggembala. "Kami merasa kehilangan anak sendiri. Meninggalkan rumah yang kami tinggali seumur hidup adalah hal terburuk yang pernah terjadi," ujar Masa'id kepada Al Jazeera.
Yang lebih mengkhawatirkan, pola ini menyasar tidak hanya Area C yang sepenuhnya di bawah kendali Israel, tetapi juga merambah Area A yang seharusnya di bawah Otoritas Palestina. Zuhair Abu Shaar dari Jifna, utara Ramallah, mengaku kaget melihat pemukim Israel tiba-tiba muncul di wilayahnya.
Analisis: Eskalasi ini terjadi setelah pemerintahan Israel yang baru dilantik dengan menteri-menteri dari gerakan pemukim garis keras. Jika dibiarkan, ini bisa memicu krisis kemanusiaan baru dan mengubah peta demografi Tepi Barat secara permanen. Organisasi internasional seperti PBB sudah memperingatkan bahwa tindakan ini melanggar hukum internasional dan bisa mempercepat aneksasi de facto.