SYDNEY, KOMPAS.com - Suasana di jalanan Sydney, Australia, kini berubah drastis. Polisi bersenjata lengkap dengan senapan laras panjang mulai berpatroli di area publik dan lokasi wisata populer. Langkah ini merupakan bagian dari operasi keamanan baru bernama Armed Response Command (ARC) yang dibentuk menyusul tragedi penembakan mematikan di Pantai Bondi akhir tahun lalu.
Dalam insiden kelam Desember silam, dua penyerang melepaskan tembakan saat acara perayaan festival Yahudi Hanukkah. Sebanyak 15 orang tewas, termasuk seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Peristiwa ini tercatat sebagai penembakan massal terburuk di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir dan memicu reformasi undang-undang senjata serta pengetatan ujaran kebencian.
Kepolisian New South Wales (NSW) menyatakan bahwa petugas ARC akan dikerahkan untuk mengamankan acara-acara besar, pertandingan olahraga, hingga tempat ibadah. Tujuannya jelas: mencegah, menghalangi, dan merespons cepat ancaman serius, termasuk aksi terorisme. Operasi ini direncanakan melibatkan hingga 250 personel yang mengenakan kendaraan taktis dan senjata api.
Reaksi masyarakat pun beragam. Sebagian warga mengaku merasa tidak nyaman (unnerving) melihat senjata api besar di jalanan. Namun, ada pula yang merasa lebih aman dengan kehadiran polisi bersenjata tersebut. Kelompok komunitas Yahudi menyambut baik langkah ini sebagai bentuk perlindungan, sementara organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International Australia menyoroti potensi 'militerisasi kepolisian' dan meminta jaminan agar kekuatan ini tidak disalahgunakan untuk membungkam protes damai.
Menteri Kepolisian NSW, Yasmin Catley, menegaskan bahwa dunia telah berubah dan langkah ini diambil demi keselamatan publik. Sementara itu, salah satu pelaku penembakan, Naveed Akram, telah didakwa dengan 78 tuduhan, termasuk 15 tuduhan pembunuhan dan 40 percobaan pembunuhan.