PUTIN ANCAM AS SOAL KUBA, ADA APA SEBENARNYA? - Berita Dunia
← Kembali

PUTIN ANCAM AS SOAL KUBA, ADA APA SEBENARNYA?

Foto Berita

Rusia langsung bereaksi keras melihat tensi Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas. Presiden Vladimir Putin dengan tegas menyebut sanksi baru AS terhadap Kuba 'tak bisa diterima'. Sikap ini muncul di tengah desakan Washington yang makin kencang, bahkan sampai melabeli pemerintahan Kuba 'gagal' dan menuntut 'perubahan drastis secepatnya'.

Tak hanya Putin, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, juga angkat bicara. Ia mendesak AS agar tidak main-main dengan rencana blokade laut penuh di Kuba, alih-alih menyarankan jalur negosiasi. Moskow juga membantah mentah-mentah jika kerja sama mereka dengan Kuba dianggap sebagai ancaman bagi AS atau negara lain.

Di pihak Kuba, Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez mengungkapkan kekhawatiran serius. Menurutnya, aksi Washington bukan hanya menekan Kuba, tapi juga mengancam kedaulatan banyak negara. Rodriguez menegaskan, Kuba akan terus berjuang menjaga kemerdekaan dan kedaulatannya, serta berupaya keras mencari solusi untuk masalah ekonominya. Havana juga menyatakan siap untuk dialog yang saling menghormati dengan negara mana pun.

Dampak Nyata dan Pertaruhan Geopolitik:

Kondisi Kuba saat ini memang berat. Sanksi AS, termasuk tarif impor minyak dari negara ketiga yang sudah diberlakukan sejak era Presiden Donald Trump, benar-benar memukul telak. Negara pulau berpenduduk 11 juta ini kini menghadapi krisis bahan bakar parah, yang praktis melumpuhkan roda ekonomi dan kehidupan masyarakatnya. PBB bahkan mengecam tindakan AS ini sebagai 'pemaksaan ekonomi sepihak dengan dampak ekstrateritorial' yang tidak adil.

Di tengah hantaman krisis ini, komitmen Rusia untuk 'terus mengembangkan hubungan' dan 'memberikan bantuan yang sesuai' kepada Kuba menjadi sangat penting. Ini bukan cuma soal dukungan ke sekutu lama, tapi juga sinyal geopolitik yang kuat. Rusia seolah memanfaatkan celah untuk memperluas pengaruhnya di 'halaman belakang' AS, sekaligus menantang dominasi Amerika di kawasan tersebut.

Meski Gedung Putih berharap ada perubahan signifikan di Kuba, mereka belum terang-terangan menyerukan pergantian kepemimpinan. Namun, situasi ini bisa memicu gejolak internal di Kuba, sekaligus memperkeruh hubungan AS dengan Rusia dan Kuba, mengingatkan kita pada tensi era Perang Dingin yang tak kunjung usai.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook