Di tengah sorotan global yang seringkali hanya terarah ke Gaza, Tepi Barat yang diduduki Palestina justru menghadapi babak baru kekerasan brutal yang kian memprihatinkan. Data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lonjakan serangan pemukim Israel mencapai rekor tertinggi, diiringi operasi militer besar-besaran yang menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi paksa. Ironisnya, respons komunitas internasional dinilai masih sangat lembek dan cenderung membiarkan.
PBB mendokumentasikan lebih dari 260 serangan pemukim di Tepi Barat dalam periode tertentu, yang mengakibatkan jatuhnya korban dari warga Palestina dan kerusakan parah pada properti mereka. Kendaraan dibakar, para petani diserang saat bekerja, dan ribuan pohon zaitun, sumber penghidupan utama, musnah dilalap api di tengah musim panen. Kekerasan ini seolah tak ada habisnya.
Sejak Oktober 2023, data PBB menunjukkan lebih dari 1.040 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat, termasuk 229 anak-anak, akibat ulah tentara dan pemukim Israel. Situasi ini diperparah dengan gelombang pengungsian massal. Pada awal 2025, sekitar 40.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat operasi militer Israel bertajuk 'Iron Wall' di Tepi Barat utara. Ini tercatat sebagai pengungsian tunggal terbesar di wilayah tersebut sejak tahun 1967.
Operasi 'Iron Wall' juga menyebabkan penghancuran infrastruktur vital dan pengusiran paksa warga dari kamp pengungsian Tulkarem serta Nur Shams. Seorang anggota parlemen Inggris, yang berkunjung pada April 2025 bersama rekan-rekannya, menyaksikan langsung kondisi yang mengharukan tersebut. Perjalanan dari Yerusalem ke Tulkarem yang seharusnya hanya memakan waktu sekitar 50 menit, harus molor hingga lebih dari tiga jam akibat pos pemeriksaan Israel yang tak terduga dan memaksa mereka mengambil rute alternatif. Mereka melihat sendiri jalanan yang hancur lebur diratakan buldoser Israel, dan bertemu dengan para pemuda yang menceritakan bagaimana infrastruktur mereka dihancurkan.
Salah satu kisah yang disaksikan adalah sebuah rumah berlantai enam yang kini menampung sekitar 50 pengungsi. Dinding rumah tersebut penuh lubang peluru, menjadi saksi bisu berkali-kalinya serangan pasukan Israel. Seorang remaja berusia 17 tahun yang tinggal di sana menunjukkan luka bekas gigitan anjing militer. Ia bercerita bagaimana tentara Israel melemparkannya ke parit dan menyuruh anjing menyerangnya. Bahkan, ia tak bisa lagi menonton televisi karena perangkat hiburan itu sudah hancur. Kekejaman yang mengerikan bersanding dengan realitas sehari-hari yang menyedihkan.
Melihat parahnya serangan pemukim yang didokumentasikan PBB, jelas bahwa situasi di Tepi Barat telah memburuk drastis. Kekerasan terus berlanjut tanpa kendali, dan pemerintah Inggris, menurut laporan ini, masih memilih untuk tidak bertindak. Respons global yang 'pengecut, hampa, dan terlalu mudah ditebak' ini justru memperburuk kondisi para korban di sana.