Paraguay tengah dilanda gejolak politik besar setelah Presiden Santiago Pena resmi dimakzulkan oleh Senat pada Jumat (waktu setempat). Keputusan ini diambil di tengah kemarahan publik atas ambruknya Ueno Bank, institusi keuangan yang selama ini menjadi tumpuan jutaan warga.
Dalam sidang yang berlangsung cepat, 44 dari 45 anggota Senat memilih untuk menyingkirkan Pena dari kursi kepresidenan, sementara satu orang abstain. Posisi Pena langsung digantikan oleh Wakil Presiden Pedro Alliana yang telah mengucapkan sumpah jabatan sebagai Presiden ke-53 Paraguay.
Keruntuhan Ueno Bank menjadi pemicu utama krisis ini. Bank tersebut sebelumnya telah menyerap dana publik hingga 800 juta dolar AS dan melayani sekitar 3 juta nasabah—nyaris dua pertiga populasi dewasa Paraguay. Ketika bank sentral menyatakan Ueno tak lagi memenuhi standar solvabilitas, otoritas terpaksa menyita aset bank tersebut. Akibatnya, jutaan nasabah mendadak tidak bisa mengakses tabungan dan pembayaran pensiun mereka.
Pena sendiri sempat menawarkan diri untuk mundur guna menjaga stabilitas demokrasi, namun Kongres menolaknya dan tetap melanjutkan proses impeachment. Kini, Pena menghadapi konsekuensi hukum yang lebih serius. Jaksa penuntut telah mengajukan permintaan penahanan terhadapnya atas tuduhan penyalahgunaan kepercayaan dan potensi konflik kepentingan terkait kepemilikan saham di perusahaan induk Ueno. Pena dikabarkan telah ditahan di kediamannya.
Selain Pena, surat perintah penangkapan juga ditujukan kepada Carlos Carvallo, mantan Gubernur Bank Sentral Paraguay, yang dianggap gagal dalam menjalankan fungsi pengawasan. Skandal ini menyoroti lemahnya regulasi keuangan di negara tersebut dan memicu pertanyaan besar mengenai integritas institusi publik.