Seorang penulis di Gaza, yang namanya tak disebutkan, mengungkap langsung ngerinya perjuangan melawan penyakit ginjal kronis di tengah lumpuhnya sistem kesehatan. Kondisinya makin parah, membutuhkan evakuasi medis secepatnya, namun semua terhalang penutupan perbatasan Rafah. Ia hanyalah satu dari puluhan ribu nyawa yang kini terancam di wilayah tersebut.
Penulis ini menceritakan, Rumah Sakit al-Shifa di Gaza, tempat ia dirawat bertahun-tahun, kini tinggal nama. Bagian nefrologi (ginjal) yang dulu jadi andalannya hancur berkali-kali dihantam serangan, dan sekarang cuma berfungsi minimal tanpa peralatan memadai. Kondisi ini memaksanya menerima "pengobatan" yang lebih mirip upaya menunda kematian ketimbang menyembuhkan.
Sejak Israel menguasai dan menutup perlintasan Rafah antara Gaza dan Mesir pada Mei 2024, pasokan obat-obatan esensial, termasuk pereda nyeri dan antibiotik, ikut lenyap tak bersisa. Pil methyldopa dan amlodipine, obat rutinnya yang harus diminum dua kali sehari, kini tak bisa ditemukan sama sekali di Gaza.
Situasi makin runyam lantaran fasilitas pengolahan air bersih juga hancur. Warga terpaksa minum air sumur yang tercemar, dan ini tentu saja memperburuk kondisi kesehatan banyak pasien, termasuk penulis tersebut. Bayangkan, tubuhnya kini ikut jadi "medan perang" baru.
Dokternya sudah bilang, kondisi penulis ini memburuk dan harus segera dievakuasi. Tapi, ia harus antre dalam daftar panjang berisi sekitar 22.000 warga Palestina lain yang juga menderita dan menunggu bisa keluar dari Gaza demi perawatan medis yang menyelamatkan jiwa di luar negeri. Ini bukan sekadar berita, tapi jeritan hati dari krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza.
Kisah ini sekaligus menyoroti betapa parahnya kehancuran infrastruktur sipil, terutama layanan kesehatan, di Gaza. Penutupan Rafah secara efektif mengunci harapan ribuan pasien kronis, membuat mereka terperangkap tanpa akses ke perawatan yang esensial. Sebuah gambaran nyata bahwa konflik ini tak hanya merenggut nyawa secara langsung, tapi juga perlahan membunuh mereka yang seharusnya bisa diselamatkan.