Konflik berkepanjangan di Yaman bukan lagi sekadar pertempuran antar faksi, melainkan sebuah krisis kemanusiaan yang menggerogoti masa depan. Sejak hampir delapan tahun lalu, peringatan tentang generasi muda Yaman yang tumbuh di bawah kekuasaan Houthi telah disuarakan. Kini, peringatan itu menjelma menjadi kenyataan pahit: anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah justru direkrut untuk bertempur. Sekolah dan kamp musim panas dilaporkan dialihfungsikan menjadi pusat indoktrinasi dan pelatihan militer, sebuah praktik yang telah didokumentasikan oleh Panel Ahli PBB untuk Yaman dan Departemen Tenaga Kerja AS.
Dampak dari perang ini tidak berhenti pada satu generasi. UNICEF menyoroti gangguan pendidikan yang parah, yang merusak perkembangan emosional dan kesehatan mental anak-anak. Kerusakan ini tidak bisa dipulihkan hanya dengan gencatan senjata. Lebih jauh, eskalasi militer Houthi kini merambah ke wilayah lain. Serangan baru-baru ini di Aden, Hadramout, Shabwa, dan bahkan Arab Saudi menunjukkan bahwa ancaman ini nyata dan mendesak. Serangan pada 15 Oktober di Istana Maashiq, Aden, dan serangan udara pada 21 Oktober di Bandara Internasional Al-Rayyan, Mukalla, menambah beban psikologis warga yang tengah berjuang membangun kembali hidup mereka. Serangan di kamp pelatihan Al-Alam, Shabwa, pada 19 Oktober yang dilaporkan menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari 200 lainnya menjadi bukti bahwa konflik ini terus menelan korban jiwa dan menghancurkan infrastruktur vital.