Kekalahan 0-2 Manchester United di markas Chelsea pada laga lanjutan Premier League akhir pekan lalu membuat posisi manajer Michael Carrick semakin tidak aman. Bermain di Stamford Bridge, Setan Merah sebenarnya tampil dominan di babak pertama. Peluang emas didapat lewat Bruno Fernandes yang kembali dipasang sebagai kapten setelah sempat dikritik, namun tendangannya masih melambung. Begitu pula dua peluang Amad Diallo yang berhasil digagalkan kiper pengganti Chelsea, Mike Penders. Gol Matheus Cunha bahkan dianulir karena offside, menandakan betapa tumpulnya lini serang United.
Petaka datang di babak kedua. Morgan Rogers, mantan anak asuh Carrick di Middlesbrough, dengan mudah membelah pertahanan United dan menaklukkan kiper Senne Lammens pada menit ke-50. Situasi memburuk ketika bek Lisandro Martinez menerima dua kartu kuning cepat. Kartu kuning keduanya berujung penalti setelah ia melanggar Wesley Fofana dengan siku terangkat. Cole Palmer yang mengeksekusi penalti berhasil memperdaya Lammens, meski bola sempat disentuh kiper asal Belgia itu. Kekalahan ini membuat United belum meraih kemenangan dalam sembilan laga terakhir dan hanya berjarak satu poin dari zona degradasi.
Analisis singkat: Kekalahan ini bukan sekadar soal taktik, tapi sudah menyentuh krisis mental pemain. Fans Chelsea bahkan sempat menyanyikan lagu 'sacked in the morning' (dipecat besok pagi) yang menyoroti posisi Carrick. Kritik dari dalam ruang ganti juga mulai terbuka, seperti yang dilontarkan Martinez soal minimnya belanja pemain. Jika United kalah di laga berikutnya, bukan tidak mungkin manajemen akan mengambil langkah drastis demi menyelamatkan musim. Dampaknya bagi masyarakat luas? Bagi penggemar sepak bola Indonesia, ini menjadi tontonan dramatis sekaligus peringatan bahwa klub sebesar United pun bisa terpuruk jika manajemen dan performa tidak selaras.