Jakarta - Krisis energi global rupanya tak hanya berdampak pada ekonomi, tapi juga nyawa manusia. Sebuah lembaga amal asal Spanyol, Salvamento Maritimo Humanitario (SMH), terpaksa menunda misi penyelamatan migran di perairan Mediterania Tengah hingga tahun depan. Keputusan pahit ini diambil bukan karena alasan keamanan, melainkan karena lonjakan harga bahan bakar yang tidak terkendali.
SMH, yang mengoperasikan kapal nelayan yang dimodifikasi menjadi kapal penyelamat, mengungkapkan bahwa harga bahan bakar yang melonjak dua kali lipat memaksa mereka mengalihkan operasi ke perairan sekitar Valencia, Spanyol tenggara. Mereka pun meluncurkan kampanye penggalangan dana untuk menutupi biaya ekstra tersebut.
Mediterania Tengah dikenal sebagai salah satu rute migrasi paling mematikan di dunia. Ribuan orang nekat menyeberang dari pantai Libya menggunakan kapal kayu yang penuh sesak dan tidak layak laut. Mereka adalah para pengungsi yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Afrika serta Timur Tengah.
Data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat penurunan tajam dalam penyeberangan laut sejak Januari 2026. Sekitar 60.000 migran mencapai Eropa tahun ini, turun 39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (98.000 orang). Namun, penurunan angka penyeberangan tidak serta merta menurunkan angka kematian. Setidaknya 2.292 orang dilaporkan tewas atau hilang selama mencoba menyeberang tahun ini.
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan Italia yang menugaskan kapal penyelamat ke pelabuhan di Italia Utara, yang berarti perjalanan lebih jauh dan biaya lebih tinggi. LSM Spanyol lainnya, Open Arms, juga telah mengurangi misi mereka karena alasan serupa. Sementara itu, pemerintah sayap kanan Italia berpendapat bahwa upaya penyelamatan kemanusiaan justru mendorong migran untuk melakukan perjalanan berbahaya tersebut.
Analisis Dampak: Penundaan misi penyelamatan ini berpotensi meningkatkan angka kematian di laut. Tanpa kehadiran kapal penyelamat, migran yang kapalnya rusak atau tenggelam akan semakin sulit mendapatkan pertolongan. Kebijakan energi dan politik imigrasi yang ketat di Eropa kini berhadapan langsung dengan krisis kemanusiaan yang semakin mendesak.