JAKARTA - Situasi keamanan di jalur pelayaran internasional Selat Hormuz kembali memanas. Sebuah kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, dilaporkan tenggelam setelah dihantam proyektil misterius saat melintas di perairan tersebut. Insiden nahas ini memaksa evakuasi darurat terhadap 21 kru kapal, meskipun pihak berwenang memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.
Serangan yang terjadi pada hari Selasa tersebut tidak hanya menyebabkan kebakaran hebat, tetapi juga kerusakan fatal pada lambung kapal. Belum reda kekhawatiran, sehari berselang, kapal berbendera Singapura lainnya, GFS Giselle, juga menjadi sasaran proyektil serupa. Beruntung, kapal kedua ini masih mampu berlayar dan mencapai pelabuhan aman dengan membawa 22 kru selamat.
Klaim simpang siur pun muncul. Garda Revolusi Iran bersikeras bahwa kapal tersebut karam akibat menabrak ranjau laut di rute yang mereka sebut "tidak sah". Namun, laporan dari badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) menyebutkan adanya dua kapal tak bernama yang menjadi korban serangan proyektil di rentang waktu yang sama.
Dampak dari insiden ini sangat besar bagi stabilitas global. Selat Hormuz merupakan urat nadi ekonomi dunia yang biasanya dilalui seperlima dari total pasokan minyak dan gas bumi global. Eskalasi serangan ini memicu kekhawatiran baru akan lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok internasional, memaksa pelayaran komersial untuk ekstra waspada atau mencari rute alternatif yang lebih mahal.