Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Kepala Badan Intelijen Nasional (DNI) Amerika Serikat, Jay Clayton, bikin heboh saat menjalani sidang konfirmasi di Senat. Bukannya menjawab lugas, pria yang juga mantan jaksa federal ini justru berputar-putar saat ditanya siapa pemenang Pilpres AS 2020.
Dalam sidang yang digelar Rabu (29/1) waktu setempat, Senator Partai Demokrat Jon Ossoff dan Mark Kelly berulang kali menekan Clayton. Pertanyaan mereka sederhana: apakah Joe Biden memenangkan pemilu melawan Donald Trump? Namun, Clayton ogah menjawab dengan tegas. Ia cuma mau mengakui bahwa Biden telah 'disertifikasi' sebagai pemenang berdasarkan suara Electoral College.
“Saya tidak akan melakukan ini dengan Anda. Ini wawancara kerja,” ujar Clayton saat dicecar Ossoff. Sikap ini langsung menuai kritik. Banyak yang menilai Clayton seperti 'malu-malu' mengakui fakta, apalagi ia dinominasikan oleh Trump yang hingga kini tak pernah mengakui kekalahannya.
Padahal, data Komisi Pemilihan AS (FEC) menunjukkan Biden menang telak dengan 306 suara elektoral berbanding 232 suara Trump. Biden juga unggul di suara rakyat (popular vote) dengan 81,2 juta suara berbanding 74,2 juta suara milik Trump.
Analisis Dampak: Sikap Clayton ini jadi batu sandungan dalam proses konfirmasinya. Di mata publik, posisi Kepala DNI harusnya netral dan berpegang pada fakta, bukan basa-basi politik. Keengganan mengakui kekalahan Trump di 2020 bisa memicu krisis kepercayaan terhadap institusi intelijen AS. Jika Clayton lolos, dikhawatirkan badan intelijen justru akan digunakan untuk mendukung narasi 'pemilu dicuri' yang terus didengungkan Trump, bukan untuk melaporkan realitas keamanan nasional secara objektif.