Perang di Timur Tengah kini memasuki hari ke-34 dengan tensi yang justru makin memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengklaim Washington hampir mencapai seluruh target perangnya, bahkan dengan sesumbar menyebut militer Iran telah 'dihancurkan'. Tak hanya itu, Trump juga menyebut Iran telah meminta gencatan senjata, sebuah klaim yang langsung dibantah keras oleh Teheran.
Merasa terpojok, Iran langsung merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal baru ke arah Israel. Ironisnya, di tengah eskalasi militer ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyatakan bahwa negaranya tidak menyimpan permusuhan terhadap rakyat Amerika Serikat, Eropa, maupun negara-negara tetangga.
Situasi ini jelas menunjukkan betapa krusialnya perang informasi di samping pertempuran fisik. Klaim Trump tentang 'hancurnya militer Iran' dan 'permintaan gencatan senjata' yang dibantah Teheran, bisa jadi strategi untuk memengaruhi opini publik atau memberi tekanan psikologis. Namun, respons rudal dari Iran menegaskan bahwa mereka tidak gentar dan siap membalas, memperpanjang derita konflik serta potensi destabilisasi kawasan. Penolakan gencatan senjata yang diikuti serangan rudal juga mempersulit upaya diplomasi dan memicu keraguan dari pengamat internasional.
Pernyataan Pezeshkian yang terdengar damai, bisa diartikan sebagai upaya memisahkan tindakan rezim dari persepsi publik, atau menenangkan komunitas global di tengah agresi yang makin menjadi-jadi. Bagaimanapun, serangan rudal ke Israel, terlepas dari perang kata-kata, secara langsung meningkatkan risiko perang regional yang lebih luas, memengaruhi harga minyak dunia, dan menimbulkan kekhawatiran serius akan keselamatan warga sipil.