London - Sebuah tragedi memilukan terjadi di Inggris ketika seorang remaja kulit putih, Henry Nowak (18), tewas ditikam oleh seorang pria bermarga Sikh menggunakan pisau upacara pada Desember 2025. Insiden ini langsung memanas setelah keluarga korban merilis rekaman yang menunjukkan polisi justru memborgol Nowak yang sekarat—yang sempat mengucapkan kata-kata terakhirnya, 'Aku tidak bisa bernapas'—sementara pelaku dibebaskan karena polisi percaya klaim palsu bahwa Nowak melakukan pelecehan rasial.
Pemimpin partai sayap kanan Reform UK, Nigel Farage, langsung bereaksi dengan kemarahan. Dalam pidatonya, ia menyebut insiden ini sebagai contoh 'kemarahan dingin' dan membandingkannya dengan kasus George Floyd di AS. Namun, analisis menunjukkan Farage sebenarnya sedang berusaha merebut kembali suara pendukungnya yang beralih ke kelompok baru yang lebih ekstrem, Restore Britain, pimpinan Rupert Lowe. Kelompok ini telah mengumpulkan 96.000 anggota hanya dalam empat bulan.
Situasi semakin rumit karena insiden ini terjadi menjelang pemilu sela kritis di Makerfield, Greater Manchester, pada 18 Juni. Kursi ini akan menentukan siapa yang akan menjadi Perdana Menteri Inggris berikutnya. Andy Burnham, Wali Kota Manchester, akan bertarung melawan kandidat Reform UK yang tengah naik daun. Sementara itu, pemimpin Konservatif Kemi Badenoch juga ikut mengomentari tragedi ini dengan menyatakan, 'Itu bisa jadi anak saya.'
Analisis Dampak: Tragedi ini menunjukkan betapa mudahnya isu rasial dan imigrasi dipolitisasi untuk kepentingan kekuasaan di Inggris. Polisi yang dianggap gagal melindungi korban justru memperkeruh suasana. Jika partai sayap kanan menang dalam pemilu sela ini, Inggris berpotensi menerapkan kebijakan deportasi massal paling agresif dalam sejarah, seperti yang dijanjikan oleh manifesto Restore Britain.