Jakarta, Senin – Perang antara Amerika Serikat dan Iran akhirnya menemukan titik terang. Sebuah kesepakatan damai telah diraih oleh kedua negara yang bertujuan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Salah satu poin utama dalam perjanjian ini adalah penghentian total 'operasi militer' di Lebanon.
Namun, di balik gembar-gembor perdamaian, masih ada ganjalan besar. Israel dengan tegas menyatakan bahwa pasukannya tidak akan ditarik mundur dari Lebanon dalam waktu dekat. Pemerintah Israel justru mengindikasikan bahwa militer mereka akan tetap berada di negara tersebut secara indefinite alias tanpa batas waktu yang jelas. Sikap ini langsung menuai kekhawatiran, terutama di kalangan warga sipil yang ingin kembali ke rumah mereka setelah mengungsi akibat pertempuran sengit.
Editor Internasional BBC, Jeremy Bowen, memberikan analisis tajam terkait situasi ini. Menurutnya, publik memang 'patut khawatir' karena konsekuensi dari perang ini akan terasa hingga beberapa generasi ke depan. Sementara itu, laporan dari koresponden BBC, John Sudworth, dari benteng pertahanan Hizbullah di Dahieh, Beirut, menggambarkan suasana yang masih mencekam. Sebuah serangan drone Iran pada Rabu lalu bahkan menewaskan satu orang dan melukai lebih dari 60 lainnya, membuktikan bahwa api konflik belum sepenuhnya padam.
Terlepas dari itu, perkembangan positif juga muncul. Ribuan orang terlihat mengikuti Palestine Marathon di Bethlehem, yang kembali digelar setelah jeda dua tahun akibat perang Gaza. Namun, situasi di lapangan tetap kompleks. Analis BBC, Lyse Doucet, menyebut bahwa blokade yang saling bersaing antara AS dan Iran di Selat Hormuz kini menjadi 'pertaruhan' yang mengancam stabilitas ekonomi global. Warga Iran sendiri, menurut Doucet, mendambakan solusi atas permusuhan panjang dengan AS, meskipun para pemimpin di Teheran belum menunjukkan keinginan untuk berkompromi dengan syarat Washington.