Presiden Kolombia Gustavo Petro lagi-lagi bikin geger panggung internasional. Kali ini, ia melontarkan pernyataan mengejutkan, menyebut perang di Gaza tak lebih dari 'eksperimen' yang sengaja dirancang untuk menakut-nakuti negara-negara 'Global South'. Pernyataan ini bukan sekadar kritik biasa, melainkan peringatan keras bahwa dunia kini sedang tergelincir menuju jurang barbarisme.
Menurut Petro, 'eksperimen' di Gaza punya misi lebih besar: mengintimidasi blok negara berkembang agar tunduk pada kekuatan tertentu. Ia juga khawatir, skema penghancuran serupa kini mulai merambat ke berbagai belahan dunia, memperparah konflik global yang sudah ada. Pernyataan kontroversial ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, di mana banyak negara di belahan bumi selatan memang merasa kurang didengarkan atau bahkan dimanfaatkan dalam pusaran politik global.
Analis melihat, pandangan Petro ini merefleksikan sentimen anti-kolonialisme yang kuat di Amerika Latin dan beberapa wilayah di Afrika serta Asia, yang kerap merasa jadi sasaran 'percobaan' atau target kekuatan besar. Konteks 'menyebarnya' konflik yang dimaksud Petro bisa diartikan dari beberapa sisi, seperti eskalasi konflik di Timur Tengah yang merembet ke Laut Merah atau perbatasan Lebanon. Namun, yang lebih besar adalah dampak psikologis dan politis yang menciptakan ketakutan serta polarisasi di tingkat global, terutama di negara-negara yang rentan. Peringatan Petro tentang 'barbarisme' bukan omong kosong belaka; ini adalah alarm bagi komunitas internasional untuk segera mencari solusi damai sebelum nilai-nilai kemanusiaan dan hukum internasional benar-benar hancur. Sikap vokal Petro ini juga bukan yang pertama; ia memang dikenal sering melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri negara-negara adidaya, khususnya terkait isu kemanusiaan.