RENCANA IPO ANTHROPIC: BAGI 5% SAHAM UNTUK KESEJAHTERAAN PUBLIK - Berita Dunia
← Kembali

RENCANA IPO ANTHROPIC: BAGI 5% SAHAM UNTUK KESEJAHTERAAN PUBLIK

Foto Berita

Raksasa kecerdasan artifisial (AI) Anthropic tengah bersiap menuju bursa saham dengan langkah yang tak biasa. Perusahaan pengembang Claude ini berencana menyumbangkan 5 persen sahamnya ke sebuah dana yang dikhususkan untuk kebaikan publik atau public good. Langkah ini diambil menjelang potensi penawaran umum perdana (IPO) yang digadang-gadang bisa membuat valuasi perusahaan menembus angka fantastis, lebih dari 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp15.000 triliun.

Dana yang dinamai Public Benefit Fund ini nantinya tidak hanya fokus pada kegiatan filantropi. Anthropic menyebut dana tersebut akan mendukung organisasi nirlaba hingga upaya mitigasi dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Menariknya, saham yang dikelola dana ini dijamin tidak akan digunakan untuk kepentingan lobi politik atau sumbangan partai, baik di dalam maupun luar negeri. Pihak dewan direksi juga berhak menambah porsi saham hingga 2 persen lagi ke dana tersebut.

Pengumuman ini sontak menuai reaksi dari Elon Musk. Melalui media sosial X, miliarder teknologi itu menyarankan agar saham tersebut diberikan langsung kepada publik. "Saya merekomendasikan memberikan sahamnya langsung kepada publik. Inilah yang akan saya lakukan," tulisnya.

Di sisi bisnis, performa Anthropic terbilang moncer. Pendapatan mereka dikabarkan melesat 45 persen menjadi 16,8 miliar dolar AS pada kuartal III 2025. Meski begitu, langkah ini tak lepas dari sorotan. Industri AI kini menghadapi tekanan global terkait keamanan dan dampak sosial-ekonomi. Dalam dokumen IPO-nya, Anthropic bahkan mengakui bahwa AI bisa menimbulkan risiko katastrofik bagi kemanusiaan.

Analisis Dampak: Langkah Anthropic membagikan saham ke publik bisa jadi angin segar di tengah kekhawatiran masif soal otomatisasi. Data IMF 2024 menyebut hampir 40 persen pekerjaan global terancam dampak AI, dengan angka mencapai 60 persen di negara maju. Inisiatif dana ini menjadi sinyal bahwa perusahaan teknologi mulai memikirkan jaring pengaman sosial, meski publik menuntut transparansi lebih besar soal siapa yang mengelola dan bagaimana dana itu disalurkan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook