Jakarta - Raksasa semikonduktor asal Taiwan, TSMC, kembali menggebrak dengan komitmen investasi tambahan senilai 100 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.600 triliun) di Arizona, Amerika Serikat. Langkah ini langsung menambah total investasi TSMC di Negeri Paman Sam menjadi 265 miliar dolar AS.
Kabar ini menjadi angin segar bagi ambisi Presiden AS Donald Trump yang ingin memulihkan industri manufaktur canggih di dalam negeri. Bos TSMC, CC Wei, mengonfirmasi bahwa dana segar tersebut akan digunakan untuk membangun empat pabrik baru di Arizona, melengkapi delapan pabrik yang sudah dalam tahap pembangunan atau perencanaan.
Keputusan ini diumumkan bertepatan dengan laporan keuangan TSMC yang moncer. Pada kuartal kedua tahun ini, laba bersih perusahaan melonjak 77 persen menjadi 22 miliar dolar AS, dibandingkan 12,4 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini didorong oleh permintaan chip untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) dan perangkat pintar yang terus menggebu.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyambut baik rencana ini. Menurutnya, kepemimpinan Trump berhasil memaksa perusahaan-perusahaan besar untuk kembali berinvestasi di Amerika. "Pengumuman TSMC ini akan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja dan mengembalikan manufaktur semikonduktor canggih ke Amerika," ujar Lutnick.
Analisis: Langkah TSMC ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga manuver geopolitik. Di balik investasi raksasa ini, ada tekanan tarif yang sebelumnya diancamkan Trump ke Taiwan. Pada Januari lalu, AS setuju memangkas tarif barang dari Taiwan menjadi 15 persen sebagai imbalan investasi besar-besaran di sektor semikonduktor. Artinya, pabrik-pabrik ini bisa jadi 'tebusan' agar bisnis TSMC tetap lancar di tengah ketegangan AS-China. Dampaknya bagi masyarakat global? Pasokan chip untuk ponsel, mobil, hingga server AI bakal lebih aman karena tidak lagi bergantung penuh pada satu kawasan (Taiwan). Tapi, biaya produksi di AS yang lebih mahal bisa bikin harga gawai di masa depan ikut naik.