Laju kemajuan pasukan Rusia di medan perang Ukraina sepanjang tahun 2026 ini praktis mandek. Data dari Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan Moskow hanya berhasil merebut wilayah seluas 117,38 kilometer persegi dalam sepuluh bulan pertama—angka yang anjlok drastis dibanding tahun 2025 yang mencapai 5.304 kilometer persegi.
Artinya, kecepatan gerak maju militer Rusia kini cuma 0,38 kilometer persegi per hari, jauh menurun dibanding 13,25 kilometer persegi per hari pada tahun lalu. Di sisi lain, harga yang dibayar Rusia sangat mahal: Staf Umum Ukraina mencatat sekitar 381.300 tentara Rusia tewas atau luka berat hingga akhir Oktober. Angka korban bulanan bahkan terus memecahkan rekor, mencapai 54.400 jiwa pada Oktober saja—jauh melampaui kapasitas rekrutmen Rusia yang hanya 24.000 sampai 30.000 orang per bulan.
Karena gagal menembus garis depan, Rusia dilaporkan beralih ke strategi teror psikologis. Mereka meningkatkan serangan jarak jauh ke infrastruktur energi, memicu pemadaman listrik massal di awal musim dingin. Puncaknya terjadi pada 3 November dengan meluncurkan 370 drone dan 76 rudal dalam sehari. Serangan paling mematikan terjadi di desa Komyshuvakha, Zaporizhzhia, yang menewaskan sedikitnya 50 warga sipil saat sedang mengantre bantuan kemanusiaan.
Analisis dampak: Situasi ini menempatkan masyarakat sipil Ukraina dalam bahaya besar menjelang musim dingin. Pemadaman listrik yang meluas mengancam akses pemanas dan air bersih. Sementara itu, bagi Rusia, tingginya angka korban yang tidak sebanding dengan hasil di lapangan berpotensi memicu krisis demografi dan ketidakstabilan politik domestik dalam jangka panjang.