BADAI RUDAL IRAN GUNCANG TELUK: APA KABAR MINYAK DUNIA? - Berita Dunia
← Kembali

BADAI RUDAL IRAN GUNCANG TELUK: APA KABAR MINYAK DUNIA?

Foto Berita

Timur Tengah makin bergolak! Konflik bersenjata yang dipicu oleh perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran kini menyeret sejumlah negara Teluk Arab ke dalam pusaran kekerasan yang kian intens. Selama hampir tiga minggu, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Arab Saudi terus menjadi sasaran empuk rudal serta drone Iran, memicu kekhawatiran akan eskalasi regional dan dampak ekonomi global yang tak terhindarkan.

Sejak subuh hari Selasa, berbagai negara Teluk Arab sibuk mengintersepsi rentetan serangan udara. Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan pasukannya berhasil mencegat serangan rudal. Di Kuwait, Garda Nasional menembak jatuh pesawat tak berawak, tak lama setelah militer mengumumkan telah mencegat serangan rudal dan drone musuh. Hal serupa juga dilaporkan oleh UEA, Arab Saudi, dan Bahrain yang berhasil mengatasi ancaman serupa di wilayah udara mereka.

UEA disebut menjadi negara yang paling parah terkena dampak balasan Iran. Menurut laporan, lebih dari separuh dari 3.000 proyektil—rudal dan drone—yang ditembakkan Iran ke negara-negara GCC (Gulf Cooperation Council) menargetkan wilayah UEA. Bahkan, ledakan terdengar jelas di Dubai akibat operasi pertahanan udara yang mengantisipasi ancaman rudal. Pemandangan kilatan intersepsi di langit malam kini menjadi hal yang akrab di kota-kota Teluk.

Meski Iran berdalih serangan ini menargetkan pangkalan militer AS yang digunakan dalam perang, negara-negara Teluk menolak klaim tersebut dan menegaskan serangan itu tidak dapat dibenarkan. Dampaknya sungguh mengerikan. Selain menyebabkan jatuhnya korban jiwa, ekonomi di kawasan Teluk ikut terpukul hebat. Produksi energi terganggu parah, pariwisata dan perjalanan kacau balau.

Bahkan, produksi harian minyak dari produsen Timur Tengah anjlok dari 21 juta menjadi 14 juta barel hanya dalam seminggu lebih, terutama karena potensi penutupan Selat Hormuz yang krusial. Analis memperkirakan, kerugian ekonomi ini bisa jadi yang terparah sejak Perang Teluk 1990-1991. Perang ini tidak hanya membawa kematian dan kehancuran, tetapi juga krisis energi yang meluas jauh melampaui kawasan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook