NEW DELHI — Burung Monal, spesies pheasant ikonik yang menjadi kebanggaan Nepal dan negara bagian Uttarakhand, India, kini menghadapi ancaman serius akibat lonjakan aktivitas manusia di kawasan Himalaya. Penelitian selama lima tahun mengungkap bahwa pembangunan infrastruktur dan pariwisata yang tidak terkendali telah mengubah cara hidup dan komunikasi burung ini.
Studi pertama menemukan bahwa habitat alami Monal di padang rumput alpine di atas garis pohon semakin sempit, memaksa burung ini bermigrasi ke dataran yang lebih tinggi. Sementara studi kedua mengungkap bahwa kebisingan akibat aktivitas manusia membuat Monal mengubah nada suaranya agar tetap bisa berkomunikasi dengan calon pasangan dan rivalnya.
Dr. Rajeev Lochan, peneliti utama dari kedua studi tersebut, menjelaskan bahwa Monal dipilih karena habitatnya yang terbatas dan pola migrasi musiman yang unik. Hal ini menjadikannya indikator kesehatan ekosistem Himalaya bagian barat laut. "Jika spesies ini menghadapi masalah di lanskap ini, kemungkinan besar gangguan ekologis juga berdampak pada burung-burung lain yang lebih sensitif," ujarnya kepada BBC.
Para peneliti memperingatkan bahwa perluasan infrastruktur dalam satu dekade terakhir telah membuka akses ke lebih banyak wilayah, meningkatkan jumlah pengunjung, dan mengganggu satwa liar. Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim yang semakin memperparah kerentanan biodiversitas di kawasan tersebut.
Vishal Singh, praktisi lingkungan yang fokus pada isu ekologi dan iklim di Himalaya, menekankan bahwa akar masalahnya adalah ketidakselarasan antara pembangunan ekonomi dan integritas ekologi. "Ada banyak faktor yang berperan, tetapi pada tingkat yang lebih luas, masalahnya adalah pembangunan ekonomi kawasan ini tidak sejalan dengan keutuhan ekologisnya," tegasnya.
Dampaknya bagi masyarakat sangat signifikan. Monal bukan sekadar burung biasa — ia adalah bagian dari identitas budaya, cerita rakyat, dan simbol kebanggaan masyarakat Himalaya. Penurunan populasi atau perubahan perilaku Monal dapat menjadi sinyal awal bahwa ekosistem Himalaya sedang berada di titik kritis. Jika spesies yang relatif adaptif seperti Monal saja kesulitan bertahan, maka spesies yang lebih sensitif kemungkinan menghadapi ancaman yang jauh lebih besar.
Lebih dari itu, kawasan Himalaya sendiri sedang menghadapi krisis iklim yang serius. Gletser di pegunungan ini mencair lebih cepat dari sebelumnya, mengancam sumber air bagi jutaan orang di Asia Selatan. Dengan demikian, nasib Monal bukan hanya soal konservasi burung, tetapi juga cerminan kesehatan lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat luas.
Para ahli mendesak perlunya regulasi ketat terhadap pariwisata dan pembangunan infrastruktur di kawasan Himalaya, serta integrasi pertimbangan ekologis dalam setiap kebijakan pembangunan. Tanpa langkah konkret, bukan hanya Monal yang terancam — seluruh ekosistem Himalaya dan masyarakat yang bergantung padanya berada di ujung tanduk.