Kabar terbaru dari kancah Timur Tengah kembali mengkhawatirkan. Kelompok Houthi di Yaman kini secara terbuka menargetkan Israel, membuka lembaran baru dalam konflik regional yang dikhawatirkan kian tak terkendali. Ini bukan sekadar eskalasi biasa, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Milisi Houthi, yang menguasai sebagian besar Yaman utara, baru-baru ini melancarkan dua serangan rudal dan drone ke Israel dalam waktu kurang dari 24 jam pada Sabtu lalu. Meskipun militer Israel mengklaim berhasil mencegat serangan tersebut, Houthi menegaskan akan terus menyerang sebagai bentuk dukungan terhadap "front perlawanan" di Palestina, Lebanon, Irak, hingga Iran. Keterlibatan Houthi ini datang sebulan setelah perang antara AS-Israel dan Iran meletus pada 28 Februari.
Sebelumnya, Houthi pernah mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah saat konflik Israel-Gaza, menyebabkan kerugian komersial senilai sekitar $1 triliun setahun. Kini, kekhawatiran serupa muncul: Houthi bisa kembali mengganggu jalur strategis Selat Bab al-Mandeb. Selat ini dianggap sebagai "kartu AS" Houthi, alat untuk menekan Israel secara ekonomi, mengganggu rute perdagangan serta logistik impor dan ekspornya. Situasi ini kian pelik mengingat Iran juga sudah membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital untuk seperlima pasokan minyak dunia. Jika Bab al-Mandeb ikut terganggu, dampaknya terhadap harga minyak dan rantai pasok global bisa sangat masif, berpotensi memicu inflasi dan resesi di banyak negara.
Di sisi lain, konflik antara AS-Israel dan Iran terus menunjukkan tanda-tanda memburuk. Pasukan AS dan Israel masih melancarkan serangan. Israel mengklaim menghantam fasilitas penelitian senjata angkatan laut Iran. Sementara itu, ledakan keras dilaporkan mengguncang Teheran pada Sabtu malam, dan media Iran menyebut setidaknya lima orang tewas akibat serangan AS-Israel di unit permukiman di Zanjan, barat laut Iran. Universitas Sains dan Teknologi Iran juga menjadi target, memicu Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman balasan terhadap universitas Israel dan AS di kawasan itu. Sebuah waduk di kota Haftgel, provinsi Khuzestan barat, juga diserang. Kementerian Kesehatan Iran mencatat 1.937 orang tewas sejak konflik dimulai.
Tidak ada titik terang diplomatik yang terlihat, mengingat posisi AS dan Iran sama-sama mengeras. Konflik ini, yang awalnya digambarkan sebagai "perang AS-Israel terhadap Iran," kini telah merembet ke seluruh wilayah, melibatkan aktor non-negara dan bahkan menyasar infrastruktur sipil dan pendidikan. Dampak kemanusiaan dari ribuan korban tewas dan jutaan pengungsi semakin parah, dan ancaman ekonomi global dari gangguan jalur pelayaran strategis dapat menjadi pukulan telak bagi perekonomian dunia. Dunia kini menahan napas, cemas menanti apakah spiral kekerasan ini akan terus meluas tanpa kendali.