SELAT HORMUZ MEMANAS! IRAN ANCAM BALAS AS, DUNIA SIAP KRISIS? - Berita Dunia
← Kembali

SELAT HORMUZ MEMANAS! IRAN ANCAM BALAS AS, DUNIA SIAP KRISIS?

Foto Berita

Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah Iran melontarkan ancaman serius. Parlemen Iran, melalui Ketua Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan siap 'menghancurkan secara tak terpulihkan' infrastruktur vital di seluruh kawasan, terutama fasilitas energi dan minyak, jika Amerika Serikat berani menyerang pembangkit listrik mereka. Ancaman balasan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam, atau AS akan 'memusnahkan' pembangkit listrik negara tersebut.

Ghalibaf menegaskan, begitu fasilitas energi Iran disasar, seluruh infrastruktur penting di Timur Tengah akan dianggap sebagai target sah. Konsekuensinya bukan main-main: harga minyak dunia diperkirakan akan meroket 'untuk waktu yang lama.' Tak hanya itu, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga tak tinggal diam. Mereka mengultimatum akan menutup total Selat Hormuz jika AS melancarkan serangan. IRGC bahkan mengancam akan menghancurkan perusahaan dengan saham AS dan menjadikan fasilitas energi di negara-negara yang menampung pangkalan militer AS sebagai target 'sah'.

Di sisi lain, Iran mengklaim Selat Hormuz, jalur krusial yang dilewati seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global, sebenarnya sudah terbuka, kecuali untuk AS dan sekutunya. Sejak 28 Februari lalu, setelah serangan AS dan Israel, Iran memang disebut-sebut secara efektif memblokade selat ini bagi musuh-musuhnya. Penutupan jalur sempit ini sebelumnya sudah memicu krisis minyak terburuk sejak 1970-an.

Situasi ini makin mengkhawatirkan karena terjadi di tengah perang di Timur Tengah yang telah berlangsung empat minggu. Iran sendiri sebelumnya sudah melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, dan beberapa negara Teluk—yang disebutnya menargetkan 'aset militer AS'—menyebabkan korban dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan. Ancaman terbaru ini menandakan konflik bisa bergerak ke arah yang jauh lebih berbahaya, apalagi hanya sehari setelah Trump sempat bicara soal 'mengakhiri' perang. Ironisnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menyerukan pemimpin dunia untuk bergabung dalam perang AS-Israel melawan Iran, mengklaim beberapa negara sudah mulai bergerak ke arah tersebut.

Jika ancaman ini menjadi kenyataan, dampak yang ditimbulkan akan sangat masif. Bukan hanya stabilitas regional yang akan hancur, tetapi juga pasar energi global akan terjerumus dalam kekacauan parah. Kenaikan harga minyak yang drastis akan memukul ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia. Ini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan peringatan serius akan potensi eskalasi konflik yang bisa menyeret seluruh dunia ke dalam krisis multidimensi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook