Kemenangan Luiz Inácio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil ternyata tidak lepas dari peran strategi digital. Sebanyak lebih dari 10 juta pendukungnya bergabung dalam sebuah saluran WhatsApp untuk menggalang dukungan. Hasilnya, Lula berhasil menang dengan selisih 10,3 juta suara dibandingkan perolehan sebelumnya. Sekutu politiknya menilai aplikasi pesan instan tersebut menjadi faktor kunci kesuksesan kampanye.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran lanskap kampanye politik modern. Jika sebelumnya media sosial terbuka seperti Twitter dan Facebook menjadi ajang utama, kini saluran broadcast di WhatsApp dinilai lebih efektif karena sifatnya yang personal dan langsung ke penerima. Strategi ini memungkinkan penyebaran informasi yang cepat dan terorganisir tanpa gangguan algoritma.
Dampaknya bagi masyarakat luas, khususnya di Indonesia, adalah munculnya tantangan baru terkait literasi digital dan privasi. Penggunaan aplikasi pesan pribadi untuk kampanye politik memunculkan kekhawatiran akan penyebaran hoaks yang sulit diawasi publik karena bersifat tertutup. Pengamat menilai regulasi kampanye digital perlu diperbarui untuk mengantisipasi model kampanye berbasis grup tertutup seperti ini.