Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah! Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah melancarkan operasi militer gabungan yang menargetkan Iran. Ibu kota Teheran menjadi sasaran utama, di mana sejumlah rudal menghantam area University Street dan Jomhouri, memicu ledakan keras dan kepulan asap tebal yang terlihat membumbung di berbagai penjuru kota.
Kantor berita Fars melaporkan adanya serangan rudal di Teheran, sementara Al Jazeera mengonfirmasi kepulan asap terlihat jelas di langit kota. Media Iran lainnya, Tasnim, juga menyebut ledakan terjadi di kawasan Seyyed Khandan, Teheran utara, dan bahkan ada laporan serangan di beberapa wilayah lain secara nasional. Lokasi serangan disebut-sebut dekat dengan kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang menurut sumber Reuters, telah dipindahkan ke lokasi aman di luar Teheran.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengklaim serangan ini dilancarkan untuk 'menyingkirkan ancaman bagi Negara Israel'. Sementara itu, seorang pejabat AS membenarkan kepada Al Jazeera bahwa ini adalah operasi militer gabungan AS-Israel. AS sendiri diketahui telah menempatkan armada besar jet tempur dan kapal perang di kawasan itu, sebagai upaya menekan Iran terkait program nuklirnya. Seorang pakar bahkan menilai serangan ini sengaja dirancang untuk menggagalkan perundingan yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.
Dampak langsung serangan ini terasa luas. Di Teheran, komunikasi seluler di beberapa area dilaporkan terganggu total. Israel segera menyatakan status darurat dan menutup seluruh wilayah udaranya untuk penerbangan sipil, sembari menyiapkan warganya menghadapi potensi serangan balasan. Kedutaan Besar AS di Qatar memberlakukan 'shelter-in-place' bagi seluruh personelnya dan menyarankan warga AS untuk melakukan hal serupa. Tak ketinggalan, Kementerian Transportasi Irak juga memutuskan untuk menutup wilayah udaranya. Informasi dari pejabat pertahanan Israel yang dikutip Reuters menyebutkan, serangan ini telah direncanakan berbulan-bulan, dengan tanggal peluncuran diputuskan sejak beberapa minggu lalu, bahkan di tengah negosiasi AS dan Iran.
Situasi ini jelas memperkeruh stabilitas di Timur Tengah, memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik yang lebih besar. Perang proksi dan ketegangan nuklir kini berpotensi berubah menjadi konfrontasi langsung yang dampaknya bisa meluas ke seluruh dunia, termasuk gangguan pada rantai pasok energi dan perdagangan global. Komunitas internasional menanti respons lanjutan dari Iran serta langkah-langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan yang kian memanas ini.