Analis dari Arab Perspectives Institute, Zeidon Alkinani, punya pandangan menarik. Menurutnya, konflik berkepanjangan dengan Iran justru tidak masuk akal jika dikaitkan dengan Pemilu Sela Amerika Serikat yang akan berlangsung November nanti.
Sinyal yang diberikan Presiden Donald Trump kepada Teheran memang campur aduk, kadang keras dan menantang, tapi di sisi lain juga cenderung menghindari konfrontasi langsung yang lebih besar. Inilah yang menjadi sorotan Alkinani dan bagaimana dinamika ini bisa memengaruhi panasnya persaingan politik di Negeri Paman Sam.
Publik Amerika, secara umum, sudah jenuh dengan perang panjang dan mahal di luar negeri, terutama setelah pengalaman di Afghanistan dan Irak. Terlibat konflik baru yang tak berkesudahan di Timur Tengah berpotensi besar memicu sentimen negatif dari pemilih, khususnya dari kubu oposisi atau pemilih yang masih bimbang (swing voters).
Lebih jauh lagi, dampak ekonomi dari konflik tak bisa diremehkan. Gejolak di kawasan Timur Tengah selalu berpotensi melonjakkan harga minyak dunia. Jika harga bahan bakar melambung tinggi di dalam negeri, jelas akan memukul kantong rakyat dan bisa jadi pukulan telak bagi partai berkuasa menjelang pemilu.
Pemilu Sela November ini krusial bagi Partai Republik pimpinan Trump. Mereka berjuang mempertahankan mayoritas di DPR dan Senat. Sebuah krisis geopolitik besar, apalagi jika berujung pada perang yang berlarut-larut, bisa mengalihkan fokus dari isu-isu domestik seperti ekonomi dan kesehatan yang sebenarnya lebih menjadi perhatian utama pemilih. Bukan tidak mungkin, situasi ini justru jadi bumerang yang merugikan elektabilitas calon-calon dari Partai Republik.
Singkatnya, Trump harus pintar-pintar memainkan 'kartu Iran' ini. Di satu sisi, ia ingin terlihat kuat dan tegas di mata pendukungnya. Namun di sisi lain, ia juga harus menghindari jebakan konflik yang bisa mengikis dukungan publik dan merusak peluang partainya di kotak suara November nanti. Sebuah pertaruhan besar bagi masa depan politik Amerika.