Industri pelayaran global tengah menyaksikan fenomena kontras di Selat Hormuz. Di satu sisi, arus ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk dilaporkan kembali melonjak ke level mendekati normal. Namun, di sisi lain, ancaman keselamatan kapal tanker justru semakin memanas dengan rentetan serangan proyektil misterius yang terus meningkat.
Data dari firma intelijen maritim Kpler mencatat bahwa ekspor minyak dari Teluk (di luar Iran) telah pulih hingga menembus 81 persen dari level sebelum perang pada bulan September lalu. Bahkan, ekspor dari wilayah Timur Tengah yang lebih luas sempat melampaui angka pra-konflik selama 14 hari di bulan yang sama. Pemulihan ini terjadi meskipun risiko keamanan di lapangan sangat tinggi, memaksa perusahaan pelayaran menanggung biaya asuransi, keamanan, dan pengiriman yang jauh lebih mahal.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang biasanya menangani sekitar 125 kapal komersial besar setiap harinya, menyumbang sekitar 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) dan minyak mentah dunia. Sejak meletusnya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari, Iran sempat menutup selat ini sebagai bentuk balasan, sementara Washington memberlakukan blokade di pelabuhan Iran.
Meski arus barang berjalan, keselamatan kru menjadi taruhan. Pekan lalu, sebuah tanker berbendera Panama menjadi sasaran serangan proyektil tak dikenal saat melintas, mengakibatkan 12 kru luka-luka. Insiden lain juga menimpa kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) MT Kazimah III berbendera Kuwait yang terbakar setelah dihantam serangan pada 1 Oktober, serta tanker Lipsi yang mengalami kerusakan mesin akibat serangan di timur laut Oman. Otoritas maritim Inggris (UKMTO) mencatat setidaknya satu serangan terjadi setiap hari di Selat Hormuz atau Teluk Aden sejak awal Oktober.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat global, kelangsungan pasokan minyak ini adalah kabar baik untuk meredam lonjakan harga energi di pasar internasional. Namun, tingginya intensitas serangan menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih sangat nyata. Jika eskalasi serangan berlanjut dan salah satu kapal besar berhasil ditenggelamkan atau memblokir jalur pelayaran, harga minyak bisa meledak dan memicu inflasi global. Selain itu, tingginya biaya asuransi pelayaran akan berdampak pada mahalnya biaya logistik yang ujungnya dibebankan kepada konsumen.