JAKARTA, Media Online – Bintang pop dunia Lil Nas X akhirnya angkat bicara setelah menjalani perawatan intensif karena gangguan kesehatan mental. Dalam sebuah video pernyataan yang emosional, pelantun 'Old Town Road' itu mengaku kondisinya kini jauh lebih baik dan rasa takut di hatinya mulai memudar.
Penyanyi berusia 27 tahun, yang memiliki nama asli Montero Hill, mengungkapkan bahwa ia telah menjalani rehabilitasi selama beberapa bulan terakhir. Momen ini menjadi kabar terbaru sejak ia ditangkap pada Agustus lalu karena menyerang polisi Los Angeles saat berjalan di jalan hanya dengan celana dalam. Ia kemudian dinyatakan tidak bersalah dan diizinkan mengikuti program kesehatan mental oleh hakim.
Keputusan itu diambil setelah Hill didiagnosis menderita gangguan bipolar—kondisi kesehatan mental seumur hidup yang ditandai dengan perubahan suasana hati ekstrem, dari sangat bahagia hingga sangat terpuruk. Hakim menilai perilakunya saat penangkapan sangat tidak wajar dan menyimpang dari kebiasaannya.
Dalam pernyataannya di Instagram, Hill mengakui bahwa diagnosis itu sudah lama tertunda. Ia sempat enggan menerima kenyataan karena takut harus minum obat dan khawatir dicap aneh oleh orang lain. "Saya sudah merasa seperti ini selama beberapa tahun, tapi saya tidak mau mengakuinya," ujarnya.
Dengan nada bercampur serius, Hill juga menyoroti beban hidupnya sebagai seorang kulit hitam, gay, dan kini bipolar. Ia menyebutnya sebagai 'mode sulit' dalam hidup. Namun, ia kini merasa lebih bebas berkreasi dan mulai menikmati hidup. "Aku mencium bunga mawar," katanya sambil tersenyum.
Penyanyi yang namanya melejit lewat lagu country-rap fenomenal itu juga mengabarkan bahwa meski belum siap kembali ke puncak popularitas, ia sudah menyiapkan musik baru. "Kami sudah melalui banyak hal bersama. Terima kasih sudah mendukungku. Aku ingin terus membuat kalian bangga," pungkasnya.
Analisis Dampak: Pengakuan jujur Lil Nas X ini menjadi angin segar sekaligus tamparan keras bagi stigma kesehatan mental di industri hiburan. Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi namun jarang diungkap terbuka. Kisahnya bisa menjadi contoh bahwa gangguan bipolar bukanlah aib, melainkan kondisi medis yang perlu ditangani serius. Publik figur yang berani bicara seperti ini diharapkan bisa mendorong lebih banyak orang untuk mencari bantuan tanpa rasa malu.