KIEV, UKRAINA – Ukraina akhirnya memulai babak baru perjalanan panjangnya menuju Uni Eropa (UE). Negosiasi aksesi tahap pertama resmi dibuka, menjadi angin segar di tengah perang yang masih berkecamuk dengan Rusia.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Bagi Presiden Volodymyr Zelenskyy, ini adalah misi penyelamatan. Bergabung dengan UE dianggap bisa memberikan jaminan keamanan (security guarantees) yang sangat dibutuhkan Ukraina. Sejak invasi skala penuh Rusia pada 2022, Ukraina terus mendesak akses cepat ke blok tersebut sebagai tameng politik dan ekonomi.
Namun, jalan menuju kursi anggota UE masih terjal. Ukraina harus memenuhi segudang persyaratan, yang paling krusial adalah reformasi besar-besaran, termasuk membersihkan diri dari korupsi yang sudah mengakar. UE tidak akan mentolerir negara anggota baru yang sistem hukumnya lemah.
Lalu, apa risikonya jika UE 'mengadopsi' negara yang sedang berperang? Dan yang lebih penting, bagaimana reaksi Moskow? Kremlin sejak awal menentang keras 'westernisasi' Ukraina. Langkah ini pasti akan memicu ketegangan baru, meskipun Ukraina berharap negosiasi aksesi bisa menjadi 'perisai' diplomatik.
Para analis menilai, meskipun prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun, sinyal politik dari Brussels ini sangat kuat. UE menunjukkan bahwa mereka tidak gentar dengan ancaman Rusia dan tetap berkomitmen pada masa depan Ukraina di Eropa.