Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terbuka menyatakan bahwa keterlibatan Inggris dalam serangan Amerika Serikat ke situs rudal Iran adalah sebuah 'langkah defensif'. Dalam pidatonya di hadapan parlemen, Starmer menegaskan bahwa pemerintahannya telah menyetujui penggunaan pangkalan militer Inggris oleh AS untuk melancarkan serangan presisi terhadap target rudal di Iran. Keputusan ini datang di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangkaian serangan oleh kelompok yang didukung Iran di Laut Merah dan wilayah lainnya.
Starmer menjelaskan, izin penggunaan pangkalan militer ini merupakan respons terkoordinasi untuk melindungi kepentingan keamanan dan stabilitas regional dari ancaman yang berkelanjutan. Ia menambahkan, Prancis dan Jerman pun menunjukkan kesiapan untuk mengambil langkah serupa, menandakan adanya konsensus di antara sekutu Barat dalam menyikapi situasi ini. Pernyataan Starmer ini menggarisbawahi komitmen Inggris untuk mendukung sekutunya dan menjaga jalur pelayaran internasional tetap aman, sekaligus mengirimkan pesan tegas kepada pihak-pihak yang berpotensi mengganggu stabilitas.
Namun, keputusan ini bukan tanpa risiko. Analis geopolitik menyoroti bahwa keterlibatan langsung sekutu Barat dalam aksi militer terhadap Iran, meskipun diklaim 'defensif', berpotensi meningkatkan eskalasi konflik di kawasan. Iran sendiri kemungkinan akan melihat tindakan ini sebagai provokasi dan bisa membalas dengan berbagai cara, baik langsung maupun melalui proksi mereka. Masyarakat internasional kini menanti reaksi Teheran serta bagaimana dinamika kekuatan global akan bergeser pasca-pengumuman ini, mengingat implikasi jangka panjangnya terhadap harga minyak, stabilitas ekonomi, dan keamanan global secara keseluruhan.