Donetsk, Rusia - Situasi di front timur Ukraina berbalik arah. Pasukan Rusia kini terpaksa mundur dari sejumlah desa di selatan Lyman, Donetsk, wilayah yang sebelumnya mereka kuasai dengan kuat. Kemunduran ini terjadi di tengah gencarnya operasi kontra-serangan Ukraina yang dijuluki 'Operation Vivaldi'.
Menurut laporan kanal Telegram pro-Kremlin, Rybar, pada 7 Oktober, pasukan Moskow kehilangan kendali atas beberapa pemukiman di selatan Lyman. Lyman sendiri merupakan titik strategis yang selama ini mereka incar sebagai batu loncatan untuk menyerang kota benteng Sloviansk dan Kramatorsk. Namun, alih-alih maju, Rusia kini harus fokus mempertahankan posisi yang tersisa.
Sejak diluncurkan tahun ini, Operasi Vivaldi dilaporkan telah merebut kembali 175 kilometer persegi wilayah yang sebelumnya diduduki Rusia di sekitar Lyman. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut operasi ini sukses meski belum tuntas sepenuhnya. Pertempuran kunci kini mengarah ke desa Kryva Luka, sebuah titik tinggi di tepi sungai Siversky-Donets yang bisa menjadi pangkalan untuk serangan balik lebih jauh ke timur.
Menariknya, sumber Rusia mengakui bahwa kesalahan komunikasi telah memperburuk posisi mereka. Mereka menuding strategi propaganda yang terlalu dini mengklaim desa-desa yang belum benar-benar dikuasai. 'Pernyataan prematur' ini, kata Rybar, justru memberi Ukraina kesempatan menumpuk kekuatan dan melancarkan serangan balik.
Di sisi lain, klaim kemenangan Rusia di atas kertas tidak sejalan dengan fakta lapangan. Presiden Putin mengklaim telah merebut 1.300 km persegi wilayah Ukraina pada September. Namun, Institute for the Study of War (ISW) mencatat Rusia justru kehilangan 80 km persegi pada bulan yang sama. Angka korban di pihak Rusia pun dilaporkan mencetak rekor tertinggi, dengan lebih dari 46.000 personel tewas dan luka pada September, dan tren ini terus meningkat di awal Oktober.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi warga sipil di wilayah Donetsk, eskalasi ini berarti situasi kemanusiaan yang semakin genting. Mundurnya Rusia dari beberapa desa mungkin membawa harapan pembebasan, namun pertempuran yang terus bergeser membuat jalur evakuasi dan pasokan bantuan semakin sulit. Ketidakstabilan ini juga berdampak pada harga pangan dan energi di kawasan, serta memicu gelombang pengungsian baru ke wilayah Ukraina tengah dan barat.