Jakarta - Seorang akademisi iklim asal Swedia, Andreas Malm, mengaku dilarang masuk ke Inggris oleh otoritas imigrasi setempat. Larangan ini diduga kuat buntut dari rencananya tampil dalam sebuah diskusi panel bersama salah satu pendiri kelompok Palestine Action, organisasi yang telah dilarang di Inggris karena dianggap teroris.
Malm, yang merupakan dosen senior di Universitas Lund, menerima surat dari Home Office (Kementerian Dalam Negeri Inggris) yang menyatakan kehadirannya dianggap 'tidak kondusif untuk kepentingan publik'. Meski tidak dijelaskan secara rinci, ia menduga larangan tersebut murni karena keterkaitannya dengan Huda Ammori, pendiri Palestine Action, dalam acara yang digelar majalah sayap kiri, Tribune.
Pemerintah Inggris memang memiliki wewenang luas untuk menolak masuk warga negara asing yang dinilai berisiko. Kasus ini mencuat di tengah kontroversi larangan kelompok Palestine Action yang saat ini sedang ditinjau oleh Mahkamah Agung Inggris. Otoritas mencatat lebih dari 3.700 orang telah ditangkap terkait dugaan dukungan terhadap kelompok tersebut, meski belum ada yang menjalani persidangan penuh.
Analisis Dampak: Penolakan ini memicu kekhawatiran serius terhadap kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat di Inggris. Kritik muncul karena pemerintah dianggap menerapkan prinsip 'salah pergaulan' (guilt by association). Bagi masyarakat luas, kasus ini menjadi preseden bagaimana negara dapat membatasi ruang diskusi publik, terutama terkait isu sensitif seperti konflik Palestina dan krisis iklim, yang berpotensi membungkam suara-suara kritis di forum internasional.