Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Sebuah serangan udara dahsyat dilaporkan menghantam markas Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) pro-Iran di Provinsi Anbar, Irak, menewaskan sedikitnya sepuluh komandan milisi yang tengah rapat. Insiden ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di wilayah yang sudah rentan.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kerusakan parah pasca serangan. Ledakan besar mengguncang sebuah markas penting milik PMF, sebuah kelompok paramiliter yang banyak didukung Iran dan secara resmi terintegrasi dalam struktur keamanan Irak.
Sumber-sumber lokal menyebutkan, setidaknya sepuluh orang tewas, termasuk beberapa komandan penting dari kelompok-kelompok di bawah payung PMF atau yang dikenal juga sebagai Hashd al-Shaabi. Mereka dikabarkan sedang menggelar pertemuan strategis saat serangan mendadak itu terjadi, menambah daftar panjang korban dalam konflik di kawasan tersebut.
Meski belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab, serangan semacam ini seringkali dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat atau Israel. AS kerap menargetkan kelompok-kelompok yang dituduh menyerang kepentingan atau pasukan mereka di Irak dan Suriah. Sementara itu, Israel dikenal aktif menyerang target-target terkait Iran di Suriah dan terkadang di Irak, terutama yang diyakini terkait dengan transfer senjata.
Insiden ini tentu saja memperdalam ketidakstabilan di Irak dan Timur Tengah. PMF memainkan peran penting dalam lanskap politik dan keamanan Irak, sekaligus menjadi proksi strategis bagi Iran di kawasan. Serangan ini berpotensi memicu balasan dan eskalasi lebih lanjut, menambah daftar panjang konflik yang belum usai di wilayah tersebut. Pemerintah Irak sendiri berada di posisi sulit, berusaha menyeimbangkan hubungan dengan Iran dan AS, sambil menjaga kedaulatan negara.