Di balik ketegangan geopolitik dan perebutan pengaruh di Timur Tengah, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ternyata menyimpan dimensi yang jauh lebih dalam: benturan ideologi keagamaan yang ekstrem. Berbeda dengan pandangan konvensional yang melihatnya murni dari kacamata strategis, sejumlah pejabat tinggi AS justru secara terbuka melontarkan narasi 'perang suci' yang mengejutkan.
Pandangan ini diperkuat oleh pernyataan seperti yang diucapkan oleh Sekretaris Perang AS Pete Hegseth, yang menyebut Iran sebagai 'rezim gila yang terobsesi delusi Islamis profetik'. Senada, Sekretaris Negara Marco Rubio melabeli penguasa Iran sebagai 'fanatik agama yang gila'. Komentar-komentar ini bukan sekadar retorika kosong, melainkan cerminan dari gelombang baru di tengah masyarakat Kristen Barat: bangkitnya nasionalisme Kristen.
Berbeda dengan konservatisme agama arus utama, nasionalisme Kristen ini bertujuan menundukkan semua agama dan sistem budaya lain di bawah supremasi Kristen, mencakup ranah politik, hukum, dan sosial. Ideologi ini memiliki korelasi kuat dengan nasionalisme kulit putih, rasisme, anti-Semitisme, dan Islamofobia.
Pete Hegseth, yang dikenal dekat dengan gerakan Kristen Rekonstruksionis – sebuah gerakan yang menolak pemisahan gereja dan negara – dianggap sebagai representasi kuat dari kelompok garis keras ini. Ia bahkan melihat Pentagon sebagai instrumen 'perang suci', dengan tato 'Jerusalem Cross' dan 'Deus Vult' (Tuhan Menghendaki) yang ia sebut sebagai lambang 'perang salib Kristen Amerika modern'. Yang lebih provokatif, ia juga memiliki tato kata Arab 'kafir' (kafir), yang dianggap sebagai provokasi anti-Muslim.
Bukan hanya di level petinggi, narasi 'perang salib' ini juga meresap ke budaya militer operasional. Yayasan Kebebasan Beragama Militer melaporkan lebih dari 110 keluhan dari prajurit AS yang bertugas di Timur Tengah. Salah satunya datang dari seorang bintara yang menceritakan bagaimana komandannya memberi tahu pasukan bahwa perang ini adalah 'bagian dari rencana ilahi Tuhan', bahkan mengutip Kitab Wahyu dan menyatakan bahwa 'Presiden Trump telah diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api di Iran demi memicu Armageddon'.
Fenomena ini bukan hanya mengaburkan batas antara politik dan agama, tetapi juga berpotensi memicu polarisasi yang lebih tajam dan salah tafsir konflik. Jika konflik geopolitik ini dipandang sebagai benturan peradaban atau 'perang suci', peluang diplomasi akan semakin menipis dan risiko eskalasi konflik akan semakin tinggi. Ini juga bisa memicu sentimen anti-Barat yang lebih kuat di dunia Muslim, memperumit stabilitas kawasan yang memang sudah rentan.