Konflik berkepanjangan di Sudan tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga masa depan generasi mudanya. Data UNICEF mengungkap fakta memilukan: dari 17 juta anak usia sekolah di Sudan, sekitar 8 juta di antaranya kini putus sekolah. Mereka terpaksa turun ke jalan untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga yang terpuruk.
Salah satu potret nyata datang dari Abkar Mohammed, bocah 9 tahun di Port Sudan. Setiap hari, ia menghabiskan waktu membersihkan dan menyemir sepatu di jalanan. Meski sempat mengikuti kelas mengaji di 'khalwa' tradisional, Abkar harus bekerja sepulang belajar. Dari hasil kerjanya, ia hanya mengantongi sekitar 10.000 pound Sudan (sekitar Rp 25 ribu) per hari untuk diserahkan kepada ibunya guna memenuhi kebutuhan pokok.
Dampak buruk perang tidak berhenti di situ. Di wilayah Darfur, tercatat 80 persen sekolah tutup dan 70 persen anak tidak mengenyam bangku pendidikan. Save the Children mencatat, anak-anak Sudan rata-rata telah kehilangan 484 hari belajar sejak konflik pecah April 2023. Situasi ini diperparah dengan serangan drone yang menghancurkan fasilitas pendidikan, termasuk insiden terbakarnya 330.000 buku pelajaran di Kordofan Utara.
Analisis Singkat: Krisis pendidikan ini menjadi bom waktu bagi Sudan. Selain ancaman buta huruf massal, Sulaima Ishag dari Dewan Penasihat Pemerintah menyoroti risiko sosial yang mengintai, terutama bagi anak perempuan. Tanpa sekolah sebagai tempat aman, anak-anak rentan terhadap pernikahan dini, kekerasan seksual, hingga rekrutmen paksa oleh kelompok bersenjata. Hilangnya akses pendidikan bukan sekadar soal akademis, melainkan hilangnya perlindungan sosial bagi anak-anak di zona konflik.