Kemenangan telak Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) yang dipimpin Tarique Rahman dalam pemilihan parlemen bukan sekadar babak baru bagi politik di negeri itu. Hasil pemilu ini, dengan koalisi BNP mengamankan 209 dari 350 kursi dan mengakhiri era Sheikh Hasina, diperkirakan bakal mengubah peta kekuatan regional, terutama antara India, Pakistan, dan Tiongkok. Para pengamat menyebut ini sebagai pemilu paling kompetitif Bangladesh dalam hampir dua dekade.
Tak lama setelah hasil tak resmi diumumkan Kamis lalu, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Perdana Menteri Pakistan pun buru-buru mengucapkan selamat kepada Rahman. Ini menandakan pentingnya perubahan politik di Dhaka bagi stabilitas kawasan. Profesor Hubungan Internasional Universitas Dhaka, Delwar Hossain, menyebut hasil pemilu ini sebagai "titik balik baru dalam membentuk hubungan bilateral dengan India dan Pakistan." Ia menambahkan, pemerintah baru kemungkinan akan membawa kerangka kebijakan yang lebih jelas dan implementasi strategi yang efektif.
Pergeseran ini sangat menarik mengingat hubungan India dengan Bangladesh sempat memburuk drastis. Setelah Sheikh Hasina digulingkan dan mengasingkan diri ke India menyusul pemberontakan massal pada 2024, relasi kedua negara anjlok. Apalagi India menolak mengekstradisi Hasina yang dijatuhi hukuman mati di Bangladesh karena penanganan protes mematikan tersebut. Kini, Modi berupaya menyesuaikan diri dengan realitas politik baru pasca-Hasina, yang terlihat dari kunjungannya untuk mengucapkan belasungkawa di pemakaman mantan PM Khaleda Zia awal tahun ini, ibunda dari Tarique Rahman.
Dengan permusuhan India-Pakistan dan rivalitas Tiongkok-India yang terus membara, pemerintah baru Bangladesh di bawah Rahman akan dihadapkan pada tantangan besar. Mereka harus merumuskan kebijakan luar negeri yang mampu menyeimbangkan kepentingan nasional di tengah dinamika regional yang kompleks, kemungkinan besar dengan mengurangi ketergantungan pada satu pihak dan mencari keseimbangan kekuatan baru.