IRAN UBAH STRATEGI PERANG, ANCAM INVASI NEGARA TETANGGA - Berita Dunia
← Kembali

IRAN UBAH STRATEGI PERANG, ANCAM INVASI NEGARA TETANGGA

Foto Berita

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Garda Revolusi Iran (IRGC) baru-baru ini mengumumkan perubahan doktrin militer yang signifikan: dari sebelumnya hanya bertahan, kini mereka siap melancarkan serangan ofensif. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, menegaskan bahwa jika Iran diserang, mereka tidak hanya akan membalas, tetapi juga akan menginvasi negara-negara yang dianggap terlibat dalam operasi militer terhadap Teheran.

Pernyataan ini muncul di tengah laporan intelijen yang menyebutkan potensi serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam beberapa pekan ke depan. Situasi semakin rumit dengan perintah evakuasi sebagian staf diplomatik AS dari Arab Saudi, menyusul serangan dari kelompok Houthi di Yaman. Presiden AS Donald Trump pun dikabarkan telah memberikan sinyal bahwa keputusan terkait konflik ini akan segera diambil.

Di sisi lain, Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi energi dunia—masih dilanda ketidakstabilan. IRGC mengklaim telah menyerang empat kapal yang diduga melakukan transfer minyak ilegal, serta tiga kapal lain yang terkena ranjau di barat selat. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak menembus 110 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran global akan gangguan pasokan energi.

Mohebi juga membanggakan peningkatan stok rudal Iran hingga 1,5 kali lipat sejak perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, serta kualitas dan jangkauan yang lebih baik. Ia bahkan mengisyaratkan persiapan untuk memperkenalkan senjata baru yang disebut 'induk segala bom'. Analisis dampak: Bagi masyarakat global, eskalasi ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan inflasi. Bagi warga Iran sendiri, perubahan doktrin ini menandakan periode ketegangan yang lebih tinggi dan risiko isolasi internasional yang lebih besar, sementara negara-negara tetangga seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berada dalam posisi siaga tinggi terhadap potensi perluasan konflik.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook