Petani di Australia Barat (WA) dan Australia Selatan kini berhadapan dengan wabah tikus yang mengerikan. Hama ini bukan hanya merusak ladang gandum, tetapi juga menggerogoti bangunan dan mengganggu kesehatan mental para petani.
Seorang petani bernama Geoff Cosgrove dari Mingenew, WA, menggambarkan situasinya sangat mengerikan. Tikus-tikus berlarian di langit-langit rumah, masuk ke unit AC, dan meninggalkan bau busuk seperti bangkai. Ia memperkirakan wabah tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun 2021 lalu.
Belinda Eastough, petani lain dari Nolba, bahkan memperkirakan ada 8.000 hingga 10.000 ekor tikus per hektare di lahannya. 'Mereka seperti di surga tikus,' katanya, karena panen raya tahun lalu menyisakan banyak makanan bagi hewan pengerat itu.
Yang membuat situasi semakin sulit adalah musim gugur adalah masa krusial bagi petani gandum. Mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli umpan beracun atau menanam ulang tanaman yang habis dimakan tikus. Ini terjadi di tengah tekanan ekonomi akibat mahalnya pupuk dan bahan bakar dipicu konflik global.
Dampak psikologis juga tak bisa diabaikan. Suara ribuan tikus yang berlarian di malam hari dan bau busuk yang menyengat membuat para petani stres berat. 'Mereka bermain dengan pikiranmu,' ujar Cosgrove, yang sudah 25 tahun bertani namun belum pernah mengalami wabah separah ini.