Janji kampanye Donald Trump yang tegas untuk menjauhkan Amerika Serikat dari konflik militer di Timur Tengah, khususnya dengan Iran, kini kembali jadi sorotan tajam. Pasalnya, berbagai tindakan militer dan sanksi keras terhadap Teheran selama masa kepresidenannya justru memicu ketegangan yang sangat tinggi, bahkan menimbulkan berbagai serangan yang memperparah situasi.
Publik tentu masih ingat betul bagaimana Trump berulang kali menegaskan komitmennya untuk tidak menyeret AS ke dalam “perang tanpa akhir” yang mahal. Namun, langkah-langkah yang diambil pemerintahannya justru kontradiktif dengan janji tersebut. Dimulai dengan penarikan AS secara sepihak dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018, yang kemudian diikuti dengan serangkaian sanksi ekonomi paling brutal. Sanksi ini tak hanya menargetkan sektor minyak, tetapi juga lembaga keuangan dan individu, yang secara efektif melumpuhkan perekonomian Iran dan oleh banyak pihak dianggap sebagai bentuk “perang ekonomi”.
Puncak ketegangan yang tak bisa dihindari terjadi pada awal tahun 2020, ketika serangan drone AS menewaskan Jenderal Qassem Soleimani, komandan pasukan Quds Iran, di Irak. Insiden ini sontak memicu balasan rudal dari Iran ke pangkalan militer AS, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik besar-besaran. Selain itu, dugaan serangan siber dan operasi rahasia lainnya yang kerap dikaitkan dengan AS juga turut memperkeruh suasana, seolah menggarisbawahi bahwa janji “tanpa perang” hanyalah retorika belaka.
Dampak dari panasnya hubungan AS-Iran ini tidak hanya dirasakan di kedua negara. Kawasan Timur Tengah menjadi makin bergejolak, dengan peningkatan insiden di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak vital dunia. Ini tentu saja memicu kekhawatiran global akan potensi konflik yang lebih luas, dan bukan rahasia lagi, juga berpotensi mengerek naik harga minyak dunia, yang pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Ketidakpastian geopolitik semacam ini bisa menggoyahkan stabilitas pasar dan investasi, menunda pemulihan ekonomi global yang masih rapuh.