Jakarta, CNN Indonesia -- Geliat industri kecerdasan buatan (AI) di kawasan Teluk San Francisco (Bay Area) ternyata menuai reaksi keras dari warga lokal. Setidaknya tujuh kota di kawasan yang dikenal sebagai jantung inovasi AI dunia itu kompak menerbitkan kebijakan moratorium atau penghentian sementara pembangunan pusat data (data center) baru.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Warga dan aktivis lingkungan menilai ekspansi pusat data yang masif telah membebani jaringan listrik setempat. Alhasil, tagihan listrik rumah tangga ikut melambung tinggi. Bahkan, aksi protes sempat diwarnai dengan demonstrasi unik menggunakan kostum robot kardus di depan Balai Kota Oakland bulan lalu.
Data dari Pew Research Center mencatat ada lebih dari 3.000 pusat data yang beroperasi di AS, dengan 1.500 lainnya dalam tahap pembangunan. Fasilitas ini memang membutuhkan pasokan listrik 24 jam nonstop dan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan mesin. Dampaknya, suhu permukaan tanah di sekitar pusat data bisa naik hingga 9 derajat Celsius.
Isu ini pun menjadi komoditas politik panas menjelang pemilu sela (midterm). Sejumlah politisi mulai memanfaatkan sentimen anti-pusat data untuk meraup suara, termasuk dalam pertarungan kursi DPR di distrik yang ditinggalkan Nancy Pelosi. Kandidat dari Partai Demokrat, Scott Wiener, menolak pelarangan total karena dianggap bisa menghambat regulasi AI, sementara lawannya, Connie Chan, mendukung pembatasan tersebut.