Pulau Qeshm, permata di Selat Hormuz yang tadinya dikenal sebagai surga wisata dan zona perdagangan bebas, kini berubah drastis menjadi titik panas konflik global. Pulau terbesar di Teluk Persia ini mendadak jadi jangkar strategis dalam potensi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Tak hanya lanskap alamnya yang memesona dengan gua garam dan hutan bakau, Qeshm ternyata menyimpan rahasia militer yang mengerikan: "kota-kota misil bawah tanah" Iran. Dulunya wisatawan berbondong-bondong mengagumi formasi batu uniknya, kini pandangan dunia tertuju pada apa yang tersembunyi di bawah permukaan pulau seluas 1.445 kilometer persegi ini.
Posisinya yang strategis di gerbang Selat Hormuz, hanya 22 km dari Bandar Abbas, membuat Qeshm menjadi "gabus" yang mengunci jalur transit energi paling vital di dunia. Para analis militer menyebutnya sebagai "kapal induk tak tenggelam" milik Iran, platform utama untuk kekuatan angkatan laut asimetrisnya. Jenderal purnawirawan Lebanon, Hassan Jouni, bahkan mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa Qeshm adalah rumah bagi "kemampuan serangan Iran" yang dahsyat, mampu mengontrol atau menutup Selat Hormuz.
Ketegangan di Qeshm bukan isapan jempol. Saat perang AS-Israel vs Iran memanas, pulau ini menjadi sasaran serangan. Terbukti, satu minggu setelah konflik pecah, fasilitas desalinasi vital di Qeshm diserang pasukan AS. Akibatnya, pasokan air bersih untuk sekitar 30 desa terputus, memukul keras 148 ribu penduduknya yang mayoritas Muslim Sunni. Iran tak tinggal diam; Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung melancarkan serangan balasan ke pangkalan AS di Juffair, Bahrain.
Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz bukan gertakan semata. Pekan lalu, lalu lintas kapal di selat ini praktis terhenti setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang nekat melintas. Jika penutupan ini berlanjut, dampaknya akan sangat besar pada pasar minyak global, berpotensi memicu krisis energi dan ekonomi dunia. Pulau Qeshm, dengan segala pesona dan rahasia militernya, kini benar-benar menjadi simpul krusial yang bisa menentukan arah konflik di Timur Tengah dan stabilitas global.